Sejak hari itu, statusku di rumah berubah. Aku bukan lagi kakak-hanya seseorang yang harus mengalah, diam, dan belajar menelan diri sendiri agar orang lain merasa nyaman. Aku tumbuh dengan satu kalimat yang perlahan membungkamku : "Nggak apa-apa, kasih aja buat mereka." Aku dipuji karena sabar, dibiasakan untuk menyerah, hingga suatu hari aku sadar; yang sabar itu bukan aku-yang mati perlahan itu hatiku. Di meja makan yang penuh tawa asing, aku mulai menyadari satu hal; tak ada yang akan menyuruhku menjaga diri, kecuali aku sendiri. Jadi untuk pertama kalinya, aku memilih jadi egois. Bukan demi membalas luka siapa pun, tapi demi mengumpulkan serpihan diriku yang sudah terlalu lama kubiarkan hancur. Karena kadang, menjadi egois adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.
Plus d’Infos