ALFA MACA (Revisi)

ALFA MACA (Revisi)

  • WpView
    Reads 192
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 20, 2022
"Kenapa rumah penduduk hilang?" Artamedi mengucak mata tak percaya. Alih-alih masuk rumah dengan penerangan lampu pijar sederhana itu, Ia justru melangkah ke jalan setapak. Memperhatikan alam sekitar yang sudah gelap gulita. Rumah yang mereka lalui tadi sore tak kelihatan sama sekali. Jangankan lampu, rumahnya saja sudah lenyap dalam kegelapan. "Kemana semua rumah itu?" "Artamedi, apa kau sudah mandi?" Artamedi menghentikan langkah. Seruan dari dalam rumah membuatnya urung melangkah lebih jauh. "Ekh... iya pak." "Mari segera masuk,teman-temanmu sudah menunggu." Jamuan makan malam hari itu terasa nikmat. Sederhana namun sangat berkesan di hati mereka. Mengingat istri dan kepala desa itu begitu ramah memperlakukan mereka layaknya tamu kehormatan. "Kenapa tadi kau bicara sendiri di luar, Nak?" tanya kepala desa kepada Artamedi. Sesi makan selesai dan mereka duduk lesehan dengan kuah ayam dalam cangkir masing-masing. "Aku hanya melihat..." "Teman kami ini memang beda, Pak. Dia punya dunia sendiri, punya sahabat tak kasat mata dan otaknya sedikit melenceng." Artamedi menatap Maleo tak terima. Tatapan inginnya tetap tak dihiraukan siapa pun. Sementara pak kepala desa tertawa. "Kalian terlalu berlebihan. Aku lihat anak ini sangat berkarisma." "Hahaha bapak yang berlebihan, mengemukakan pendapat untuk melindungi diri saja dia tak mampu, Pak." Candra menimpali. Wajah Artamedi memerah. Tak percaya dengan ucapan kedua temannya barusan. Kebiasaan. Mereka selalu mencoreng mencoreng citra baiknya dalam balutan candaan. Terlalu berlebihan memang. "Apakah aku bodoh, Pak?" Artamedi bertanya serius. "Ah, sudah kubilang diantara kalian kau yang paling berkarisma. Kau tak bodoh sama sekali." Ucapan pak Dandeli disambung tawa membahana Candra, Maleo, dan Alioth. Sementara yang menjadi objek tertawaan bingung sendiri. Tak ada yang lucu sama sekali. Dan Karisma apa yang dimiliki oleh badut jadian-jadian seperti dirinya?
All Rights Reserved
#232
sadboy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aksara Lingga
  • Teluk Samudra [ TAMAT ]
  • Aku Adalah Lukamu
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • Gio Davandra
  • My Name Is Erwinda
  • TAKDIR TERBAIK (TERBIT)
  • AILAH(END)✅

"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?" ..... "Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi. "Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti. "Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas. .... Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu. "Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi. "iya woeeyy!" Hani mengiyakan. "sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar. .... "Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya. .... "Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?" Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang. "Kenapa kamu tanya gitu?" "Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines