Cakrawala

Cakrawala

  • WpView
    reads 3,131
  • WpVote
    Stemmen 240
  • WpPart
    Delen 31
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd don, jun. 1, 2023
Ingin selamanya ia berada di situasi sekarang. Memandangi Jennie dalam waktu lama tanpa harus sang empu terbangun dari tidurnya. "Selamat ulang tahun mama." "Benar ya kata orang, cinta itu buta. Ia tidak bisa membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Ia hanya bisa mengetahui semakin dalam Cakra membenci, maka semakin dalam juga Cakra mencintai." Tatapan Cakra berubah nanar. Seketika hatinya sakit, bagaikan ditikam banyak bilah pisau didalamnya. "Ma, Cakra mau nanya." Hening, tak ada jawaban yang terlontar. "Jika seorang ibu adalah cinta pertama anak laki lakinya, mengapa engkau adalah luka pertama yang ku punya?" "Bukankah hakikat cinta itu indah? Mengapa cinta yang kurasakan ini berbeda?" "Jika seorang ayah adalah tameng anak laki lakinya, mengapa ia menjadi yang pertama membuat bahkan membiarkan ku terluka." lanjutnya. "Bukankah hakikat tameng melindungi, tetapi mengapa ia mengingkari apa yang harusnya ia jaga?" "Ia biarkan aku terjerembab diantara ribuan pasir kasar dimedan peperangan."
Alle rechten voorbehouden
#652
johnny
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Rainbow
  • DENNIES
  • Antara Dendam dan Cinta
  •  𝟕 𝐑𝐚𝐠𝐚 𝟏 𝐑𝐚𝐬𝐚 || 𝐄𝐍𝐇𝐘𝐏𝐄𝐍 [𝐎𝐧𝐠𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • Look at Me, MAMA! ✔
  • Cakra's Last Embrace. | End |
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Sejenak Luka

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen