Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.
Freya dan Daren

Freya dan Daren

  • WpView
    LECTURAS 15
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, nov 2, 2021
WpInfo
Ficción
Romance
Nafasku sesak, menahan isakan tertahan dalam hati. Terkubur oleh ejekan ketegaran yang terus kuperankan. Di satu sisi, ada keinginan untuk membuka hati yang terus meronta kembali ke pelukannya. Tapi di sisi lain, kenyataan di depan mata terus berupaya menyadarkan diri. Dia sudah bersama yang terindah. Sadarlah Frey dan teguhkan hati sebelum hancur berkeping-keping. Ini keputusan terbaik. Tapi hatiku terus menjerit memanggil namanya, meleleh bersama air mata yang membasahi pipi. Pedih yang kurasakan, menutup semua logika yang harusnya terbuka. Mata tidak kunjung lepas menatap bangunan yang berada di luar jendela. Di tempat yang terlihat teduh itu, kenangan berlomba-lomba mengingatkanku pada masa-masa indah, saat bersamanya. Dada terasa kian berat kala asa menguasai diri, namun tidak sanggup berucap kata pamit. "Dek, ayo berangkat! Barang-barangmu sudah dimasukkan Mas Abel ke dalam mobil." Suara yang mendekat ke ruangan nenuntun kambali kendali diri. "Tunggu sebentar, Mbak." "Oke. Kalau gitu, mbak dan masmu tunggu di depan rumah. Segera turun kalau sudah siap." Selepas keheningan yang disisakan Mbak Ilma, kepalaku menoleh ke dingding samping jendela. Papan kecil mengantung di sana dan terdapat foto kenangan yang kuhabiskan di sini. Tidak terasa, dua tahun aku berada di desa nenek. Wajah pria itu menghiasi dua per tiga papan menunjukkan peristiwa bagai album yang terbuka. Langkahku bergerak meraih tas di atas meja, berusaha untuk tidak menoleh ke jendela, papan kenangan yang bisa menghambat niat. Tangan memegang erat-erat tali tas sandang sebelum membuka kamar sepenuhnya. Di depan pintu, wajahku berpaling penuh harap ke arah jendela untuk kesempatan terakhir bertatap dengannya. Namun, kesunyianlah yang menyapa. Kuusap air mata yang kembali berderai, kali ini harus benar-benar ikhlas. "Di tempat baru, pasti ada pelipur lara untuk mengisi kepergiannya, Dek." Suara Mas Abel memecah suasana di dalam mobil, mengantar kepergian kami dari tempat itu.
Todos los derechos reservados
#613
bedausia
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Aksara Lingga
  • SMARA DIKTA
  • DIKANESHA
  • THE CLIMB [Completed]
  • Destined for me 2
  • DANADYAKSA
  • Love Circle
  • Liberosis
  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • HENGGAVORIA

"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?" ..... "Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi. "Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti. "Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas. .... Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu. "Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi. "iya woeeyy!" Hani mengiyakan. "sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar. .... "Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya. .... "Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?" Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang. "Kenapa kamu tanya gitu?" "Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido