SAJADAH MERAH [TELAH TERBIT DI LOVRINZ]

SAJADAH MERAH [TELAH TERBIT DI LOVRINZ]

  • WpView
    Reads 90,387
  • WpVote
    Votes 12,064
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadComplete Mon, Sep 18, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Diatas dermaga yang langsung menghadap lautan luas, Ate memeluk dirinya dengan tatapan kosong yang mendalam, melihat surya yang sebentar lagi istirahat meninggalkan indahnya senja sore ini. Air matanya menetes membasahi pipi kanannya yang merona bak putri malu yang tersanjung di puji sang pangeran. Hatinya bergumam setelah kembali menilik apa yang telah ia lalui selama ini. Bukankah memang semua sudah berjalan sesuai takdir dan porsinya? Seperti bumi yang selalu berputar pada porosnya? Maka inilah titik terbaik menurut takdir yang harus diterimanya. Seperti bulan yang tidak akan pernah bersama dengan matahari, seperti Mughtis yang berjuang sendiri mencintai Barirah, apakah Athena dan Arthur akan mengulang kisah yang sama? "Tuhan akan menguji kita lewat apa yang kita cintai, lantas apakah Tuhan akan mengambilmu dariku?"
All Rights Reserved
#859
sadboy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Hopeless
  • You Are Mine [Terbit]
  • Halayacrep
  • Love Story
  • MIRAGE (Completed)
  • Promise
  • ABOUT GASTALA
  • Tears Of Sincerity [TERBIT ✓]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines