GIBRAN DAN CAPUCCINO (ON GOING)

GIBRAN DAN CAPUCCINO (ON GOING)

  • WpView
    LECTURAS 67
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 8
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, nov 14, 2021
"Seperti biasa kan kopi nya?" Tanya Gibran ke Nadhira. "Hari ini mau nyobain Cappuccino" Jawab Nadhira yakin, membuat Gibran mengerinyitkan dahi nya. "Tumben?" "Waktu itu kak Gibran pernah bilang, kalo kopi kesukaan kak Gibran itu Cappuccino, jadi Nadhira mau nyobain" "Oke deh, tapi Cappuccino yang ini gue buatin spesial buat lo, jadi rasa nya agak beda" Ujar nya, lalu Nadhira mengangguk pelan seraya tersenyum manis. Nadhira Felisha Angraini, diam-diam memiliki perasaan kepada laki-laki yang ia panggil "cowok barista" itu, bahkan ia sudah jatuh cinta saat pandangan pertama, bahkan tak hanya mengagumi kepribadian dan fisik nya, ia juga begitu jatuh cinta kepada setiap kopi yang Gibran buat. Hari demi hari, Nadhira dibuat menggila karena ketampanan dan kelembuat Gibran, tapi apakah Gibran memiliki perasaan yang sama dengan Nadhira yang berbeda 4 tahun lebih muda dengan nya? PS. Maaf jika banyak kesalahan kata pada cerita ini.
Todos los derechos reservados
#241
softboy
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Possesive Playboy
  • Ruang Biru [ON GOING]
  • Na!
  • Asmalibrasi | Hyuckna ✔️ (Terbit)
  • Bukan Stalker [TAMAT]
  • My Barista Boy(Friend)
  • Bad boy is a good boy for me [END]
  • Perfect uncle ✓
  • Arsyilazka

Nareshta Ravaleon Arkana, si tampan populer di SMA Ganesha. Playboy sejati yang tak pernah kehabisan daftar nama cewek untuk ditaklukkan. Baginya, cinta adalah permainan dan perempuan hanyalah selingan. Semua bisa datang dan pergi ... kecuali satu. Askara Renaffea, sahabat sekaligus satu-satunya cewek yang tak pernah bisa ia sentuh sepenuhnya, tapi juga tak sanggup ia lepaskan. Kara adalah tempat Naresh pulang tanpa pernah diberi kepastian. Ia satu-satunya yang membuat Naresh memiliki rasa peduli bahkan posesif. Tapi perhatian itu nyatanya bukan anugerah melainkan jerat tak kasat mata. Kara terjebak di antara harapan dan kenyataan yang tak pernah berpihak. Naresh tak pernah bilang cinta. Tapi tak rela melihat Kara dimiliki orang lain. "Lo suka sama gue?" tanya Kara. " Nggak! Tapi lo tetep punya gue!" "Lo egois, Resh."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido