just atumn

just atumn

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 30, 2021
Sunyi melingkupi ruangan yang tak begitu terang, bergantung lampu tidur yang remang, sebuah kertas dan mesin ketik saling bertaut bertulis kisah setelah hujan berlalu. Tumpukan kertas berjajar rapi di meja kayu berhias tanaman musim dingin yang telah layu, nafasku berat seolah aku ingin berkata "kapan ini akan usai?" meminum segelas teh hangat dengan asap yang masih menguap diatasnya dan selimut yang melingkupi tubuhku adalah pilihan yang tepat setelah hujan berlalu. "ah apa yang aku harapkan setelah hujan berlalu?" Begitu keluhku, ketika meilhat tumpukan kertas yang tak kunjung usai, ku minum teh panas, membuang lelahnya hari yang berlalu bersama kepulan asap panas teh di kerongkonganku. Malam dingin diselimuti kehangatan, cahaya lampu kota masih menunjukan eksistensinya pukul tengah malam. Namun ada sesuatu yang hilang, entah beberapa kali aku mencari, aku seperti kehilangan sesuatu ketika menatap ribuan lampu yang berpijar di luar sana. jantungku berdegup kencang setiap saat. Mungkin, apakah ini yang namanya rindu?, atau aku hanya kesepian?. Kepalaku tertoreh melihat kembali mesin ketik yang terbaring di kasur, dan inilah ketikan kisah ribuan mimpi yang tak kunjung berakhir di bulan april, dengan cerita bertajuk... just autumn
All Rights Reserved
#167
autumn
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BUNGA KEMBALI
  • Sirna | Park Sungjin AU
  • Printemps
  • Vericha Aflyn ✔️
  • Arunika
  • Rindu Kesunyian (Sudah Terbit Buku)
  • Aksara Lingga
  • I Love You, But ... ✓
  • River Flows In U √

Mereka adalah saudara, mereka mencintai perempuan yang sama Malam itu, hujan turun dengan derasnya, membasahi jalanan yang sepi. Di balik jendela kamar yang temaram, seorang gadis duduk bersandar, matanya menatap kosong ke arah langit kelabu. Napasnya berat, pikirannya penuh. Hujan seakan mengerti perasaannya-dingin, gelisah, dan penuh ketidakpastian. Jauh di sudut kota, seorang pria berdiri di depan pintu apartemen, ragu untuk mengetuk. Tangannya mengepal, menggenggam sesuatu yang tak kasatmata-sebuah harapan, atau mungkin sekadar kenangan yang enggan ia lepaskan. Dulu, segalanya terasa sederhana. Kini, hanya ada jarak, kebisuan, dan perasaan yang tak lagi bisa mereka definisikan. Di tempat lain, seorang lelaki menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata yang dulu penuh gairah kini menyimpan kehampaan. Cinta yang ia genggam dulu, kini terasa seperti pasir yang perlahan menghilang di antara jemarinya. Mereka bertiga, terikat oleh kisah yang tak pernah sederhana. Cinta, kehilangan, pengorbanan-semua bercampur menjadi satu dalam kisah ini. Dan malam ini, takdir mulai menuliskan babak terakhirnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines