just atumn

just atumn

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 30, 2021
Sunyi melingkupi ruangan yang tak begitu terang, bergantung lampu tidur yang remang, sebuah kertas dan mesin ketik saling bertaut bertulis kisah setelah hujan berlalu. Tumpukan kertas berjajar rapi di meja kayu berhias tanaman musim dingin yang telah layu, nafasku berat seolah aku ingin berkata "kapan ini akan usai?" meminum segelas teh hangat dengan asap yang masih menguap diatasnya dan selimut yang melingkupi tubuhku adalah pilihan yang tepat setelah hujan berlalu. "ah apa yang aku harapkan setelah hujan berlalu?" Begitu keluhku, ketika meilhat tumpukan kertas yang tak kunjung usai, ku minum teh panas, membuang lelahnya hari yang berlalu bersama kepulan asap panas teh di kerongkonganku. Malam dingin diselimuti kehangatan, cahaya lampu kota masih menunjukan eksistensinya pukul tengah malam. Namun ada sesuatu yang hilang, entah beberapa kali aku mencari, aku seperti kehilangan sesuatu ketika menatap ribuan lampu yang berpijar di luar sana. jantungku berdegup kencang setiap saat. Mungkin, apakah ini yang namanya rindu?, atau aku hanya kesepian?. Kepalaku tertoreh melihat kembali mesin ketik yang terbaring di kasur, dan inilah ketikan kisah ribuan mimpi yang tak kunjung berakhir di bulan april, dengan cerita bertajuk... just autumn
All Rights Reserved
#46
autumn
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aksara Lingga
  • Arunika
  • UNDERTOW || Babymonster-HIATUS
  • Red [Cerita Pendek]
  • kiara's dream
  • Black Out III
  • Pain of the Slayer
  • Rindu Kesunyian (Sudah Terbit Buku)
  • SALAH RASA (TAMAT)
  • Printemps

"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?" ..... "Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi. "Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti. "Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas. .... Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu. "Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi. "iya woeeyy!" Hani mengiyakan. "sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar. .... "Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya. .... "Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?" Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang. "Kenapa kamu tanya gitu?" "Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines