Story cover for just atumn by kirei_author
just atumn
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Nov 06, 2021
Sunyi melingkupi ruangan yang tak begitu terang, bergantung lampu tidur yang remang, sebuah kertas dan mesin ketik saling bertaut bertulis kisah setelah hujan berlalu.

Tumpukan kertas berjajar rapi di meja kayu berhias tanaman musim dingin yang telah layu, nafasku berat seolah aku ingin berkata "kapan ini akan usai?" 

meminum segelas teh hangat dengan asap yang masih menguap diatasnya dan selimut yang melingkupi tubuhku adalah pilihan yang tepat setelah hujan berlalu.

"ah apa yang aku harapkan setelah hujan berlalu?" Begitu keluhku, ketika meilhat tumpukan kertas yang tak kunjung usai,

ku minum teh panas, membuang lelahnya hari yang berlalu bersama kepulan asap panas teh di kerongkonganku.

Malam dingin diselimuti kehangatan, cahaya lampu kota masih menunjukan eksistensinya pukul tengah malam.

Namun ada sesuatu yang hilang, entah beberapa kali aku mencari, aku seperti kehilangan sesuatu ketika menatap ribuan lampu yang berpijar di luar sana.

jantungku berdegup kencang setiap saat. Mungkin, apakah ini yang namanya rindu?, atau aku hanya kesepian?. 

Kepalaku tertoreh melihat kembali mesin ketik yang terbaring di kasur, dan inilah ketikan kisah ribuan mimpi yang tak kunjung berakhir di bulan april, dengan cerita bertajuk... just autumn
All Rights Reserved
Sign up to add just atumn to your library and receive updates
or
#207autumn
Content Guidelines
You may also like
Aksara Lingga by Larisakuma08
59 parts Complete
"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?" ..... "Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi. "Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti. "Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas. .... Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu. "Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi. "iya woeeyy!" Hani mengiyakan. "sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar. .... "Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya. .... "Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?" Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang. "Kenapa kamu tanya gitu?" "Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.
Red [Cerita Pendek] by helloparksungjeans
37 parts Ongoing Mature
"Nara, kamu nggak bisa seenaknya gitu dong sama perasaan orang." lelaki tampan dengan fitur rupa setara deskripsi dewa-dewa mitologi Yunani yang acapkali diagung-agungkan oleh hampir setiap insan itu melayangkan protes, menatapku lekat penuh goresan yang tak payah disembunyikan dari balik matanya. Aku menoleh, menerobos masuk dalam sukma lewat bulat besar matanya yang teduh, "Emang aku seenaknya gimana, Kak?" tanyaku pada Pramudya, yang entah sudah keberapa kali dicobanya gapai kedudukan yang terlanjur kukerek naik hingga sukar bagi tiap insan yang hendak mencapai. Dada Pramudya naik turun. Ia memejamkan matanya sejenak, sambil kuserok lagi keteguhan hatiku untuk tetap berada di puncak, menolak terlena dalam tawarannya akan ikrar tuk merengkuhku di hari tergelap yang terkadang mampir tuk kecohkan pandanganku akan masa mendatang. Kelopak mata Pramudya kembali terbuka - masih luka disimpannya disana. "Yang deketin aku pertama kan kamu, terus waktu aku tertarik juga ke kamu, sekarang kamu bilang kamu nggak mau ada di hubungan apapun? Itu maksudnya apa kalau nggak semena-mena?" Pramudya curah perasaannya dengan marah, meski tetap rendah nadanya teralun. Aku tertawa kecil. Lelaki yang cermat. Sungguh jika masih tersisa percaya meski hanya seujung kuku dalam hati, rela kuselami palungku demi Pramudya. Namun sayang, lenyap sudah pandangan baikku akan cinta, hingga yang tersisa bagi Pramudya hanyalah Nara yang rapuh lekat dengan segala traumanya.
Pain of the Slayer by MasRadend_23n97
18 parts Ongoing
Di suatu waktu yang dilupakan sejarah, seorang pria kehilangan segalanya saat cahaya kecil yang ia sebut rumah direnggut oleh kegelapan. Sejak saat itu, langkahnya tak lagi menyentuh tanah dengan tujuan, hanya duka yang membuntuti di belakangnya, dan dendam yang merayap di setiap hela napas. Ketika dunia enggan menjawab panggilan hatinya, dan tubuhnya hampir musnah ditelan senyap, bayangan masa lalu datang bagai bisikan angin musim gugur. Sebuah kesempatan terlahir, bukan untuk menyembuhkan luka... tetapi untuk menantang takdir di dunia yang asing. Di sanalah, dunia yang tampak indah namun menyembunyikan luka-luka purba, ia menemukan jiwa-jiwa yang sama rapuhnya. Seorang gadis dari bangsa yang hampir lenyap, sebuah legenda lama tentang tujuh cahaya yang pernah membelenggu kegelapan, dan harapan yang tumbuh dalam diam di antara abu dendam. Di balik pertarungan antara terang dan gelap gulita, pria itu diuji - bukan soal kekuatan, tapi tentang keberanian untuk menerima kehilangan. Sebab kadang, musuh terbesar manusia bukan makhluk yang bersembunyi di balik bayang-bayang, melainkan amarah yang diam-diam tinggal di dalam jiwa. Dan di antara suara angin malam serta cahaya rembulan yang redup, perjalanan itu dimulai... bukan untuk membalas, tapi untuk menemukan kembali makna hidup yang telah lama hilang. -*-*- Genre: (Drama) (Action) (Dark Fantasy Magic) (Reincarnation) (Adventure) --- History of Creation Time Started Writing: 3 October 2024 Finished Writing: ? *** Built by "SY.MasRadend"
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" by apriani200
22 parts Ongoing
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
Vericha Aflyn ✔️ by Icacty_
58 parts Complete
#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"
Mahligai Sunyi by AetherSerl
28 parts Complete Mature
Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.
You may also like
Slide 1 of 10
Arunika cover
Aksara Lingga cover
Red [Cerita Pendek] cover
Pain of the Slayer cover
BUNGA KEMBALI cover
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover
Vericha Aflyn ✔️ cover
UNDERTOW || Babymonster-HIATUS cover
Mahligai Sunyi cover
Printemps cover

Arunika

30 parts Complete Mature

[COMPLETED] "Kita nggak tau kedepannya bagaimana hubungan ini. Meskipun sekarang aku belum cinta, tapi aku nggak mau ada orang ketiga." begitu ucap Narendra yang begitu nyata sampaikan perasaannya di hari pertama setelah kami resmi menjadi suami-istri berkat perjodohan yang dicanangkan oleh kedua pihak keluarga kami. Aku hanya mengangguk bak anjing yang patuh pada tuannya. Kubiarkan Narendra menjadi nahkoda di perjalanan yang tiada tepi ini. "Aku udah post foto nikahan kita di sosial mediaku, tapi maaf ya, aku unggahnya yang kita nggak hadap kamera. Biar temen-temenku yang nggak diundang ke nikahan kita tau aja kalau sekarang aku udah beristri. Tapi istriku siapa yaa mereka nggak perlu tau." aku hanya manggut-manggut, walaupun dalam hati merasa bahwa kehadiranku tak begitu diinginkan Narendra saat itu di bulan pertama kami resmi menjadi suami-istri.