Sayembara ARG WU - Nihayi

Sayembara ARG WU - Nihayi

  • WpView
    Reads 120
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Thu, Nov 11, 2021
Kita, untaian gelung kehidupan Mengandung selaksa kisah dalam bisu Kita mereguk racun yang membara Dan berharap orang lain musnah karenanya Kebatilan takkan binasa dengan sendirinya, maka Bernyanyilah! Biarkan kata-kata menemukan jalannya - Hari kedua demo. Lelaki berbaju hitam-hitam menarikku membelah kerumunan, membuatku kehilangan spanduk bertuliskan "Admin Jelek" walau sempat kabur, aku tidak bisa mengabari Aes perihal keberadaanku yang meraib tiba-tiba lantaran handphoneku diambil. [Arsya, mahasiswi - SAYEMBARA ARG WU: JAGAT GONJANG-GANJING]
All Rights Reserved
#6
argwu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Yogyakarta Mendarah
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Raden
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Rains In Heaven (Huang Renjun)
  • Harapan Bunga Terakhir
  • DAKSA [END]
  • Promise or Leave
  • DANGEREUX

❝Shakuntala, di penghujung harimu yang melelahkan, aku harap tanganku, bahuku, dan pelukanku akan menjadi tempat ternyamanmu untuk pulang. Tapi maaf jika di penghujung harimu yang lain, aku tak lagi bersamamu di sini. Kamu tahu, manusia itu datang dan pergi, kamu tidak bisa menahan mereka selamanya di bumi. Maaf, maaf karena pada akhirnya aku pamit undur diri dan perpisahan itu tidak dapat kita hindari lagi. Sampai jumpa di lain hari yang lebih indah, dengan senyum yang merekah lebih dari bahagia, Shakuntala.❞一 Maheesa Djayarinka Laskara Sastra. ❝Maheesa, setelah kamu pergi, Jogja dan semua tentangnya tak sama lagi. Tak ada pelukan hangat darimu lagi, tak ada genggaman erat tanganmu lagi, tak ada bahu bersandar untukku lagi, dan tak ada rumah paling nyaman untukku pulang lagi. Hingga di penghujung hariku tanpa kamu, ketika kisah kita tak lagi sehangat rengkuh, aku pernah berkata padamu, kita adalah satu. Maka padamu, pulangku menuju.❞一Shakuntala Dimitri Mandalingga. Kepada : semesta tanah Yogyakarta, buku ini menceritakan perihal kehilangan-kehilangan pilu, masa lalu yang menciptakan fana semu, dan reluk di penghujung rindu yang ingin menyatu. Tokohnya adalah dua frasa rumpang yang tak pernah rampung, menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang berkabung. Selamat berlabuh di cerita Yogyakarta mendarah, kalian akan diperkenalkan kepada Maheesa dan enam temannya yang memiliki cerita berbeda-beda. Jangan lupakan Shakuntala, puan belahan jiwa, kalau kata Maheesa一Tuan Yogyakarta dan sejuta luka di hidupnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines