Kamu, Hukumanku

Kamu, Hukumanku

  • WpView
    LECTURAS 1,545
  • WpVote
    Votos 422
  • WpPart
    Partes 25
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, dic 16, 2021
Lagi di revisi "Aku tahu bahwa kita tidak akan pernah menjadi pasangan yang nyata, tapi setidaknya kita bisa bersikap baik satu sama lain Zoni" kataku padanya. Aku sudah tidak tahan. Air mata mulai menusuk mataku, tapi aku tidak membiarkannya jatuh. Dia menatapku dengan ekspresi aneh. Kalau aku mati di depannya, dia tidak akan pernah peduli. "Kamu tidak mengerti, kan?! Aku. Tidak. akan. pernah. mencintaimu!Aku tidak akan pernah peduli padamu. Kau menungguku setiap hari, aku pulang dan makan malam dengan mu seperti pasangan normal- kau menyedihkan. Kau bukan apa-apa! Sama sekali tidak ada apa-apanya bagiku. Kau bahkan tidak layak untuk mendengar kata-kata ku. Kau adalah pecundang yang tidak memiliki siapa-siapa, dan orang tua mu? Mereka sama seperti ku. Mereka tahu bahwa kamu tidak berharga dan ingin menyingkirkanmu" katanya dengan marah. Aku menatap matanya. Aku tidak marah padanya. Dia mengatakan yang sebenarnya. Aku bukan siapa siapa. Tidak pernah, tidak akan pernah. Saya sudah terbiasa dengan kata-kata ini sejak saya lahir. Aku mengangguk. Dia benar. Dia sangat benar.
Todos los derechos reservados
#905
allah
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • A [Completed]
  • ASHILA
  • Trial & Error
  • Gus Pilihan Sang Abi
  •  Perfect man
  • Cunning Girl Wedding (END)(Sequel Terminator Husband)
  • Atlas 2
  • Cintaku Hanya Untukmu Istriku
  • Mahram Untuk Aiza (LENGKAP)
  • UTOPIS || Anthony Ginting

"Jangan liatin gue kayak gitu, gue ga suka." Ucap Aya terang-terangan. "Aya," panggilan itu entah kenapa terasa berbeda, Aya menjadi gugup. "Hm?" Aldi justru kembali diam, lagi-lagi malah menatapnya. "Kak sumpah gue ga suka ditatap lawan jenis begini. Lo to the point aja mau bahas apa, kalau engga lo bisa balik." Ucap Aya akhirnya. Aldi justru mengotak-atik ponselnya kemudian di sodorkan ke Aya. "Kenapa?" "Liat aja," Tanpa rasa curiga Aya mengambil ponsel itu. Ada sebuah video berlatarkan ruang rawat Ayahnya. Aya menatap Aldi bingung sebelum memutar video itu. Tangan Aya bergetar, inikah alasan Ayahnya meminta agar ia jangan membenci sang Ayah? "Tolong berusaha ikhlas dengan keputusan Ayah, tolong jangan benci Ayah karena itu." Ucap Ayahnya saat itu. Aya tidak tau harus apa. Aya tau pernikahan dalam video ini sah, setidaknya dalam agama. Jadi ia sudah menjadi istri Aldi dari kemarin? Dan tidak ada satupun yang mengatakannya? Bahkan Ayahnya juga tidak bertanya dahulu apa ia mau atau tidak. "Ayah tidak salah, beliau tidak ingin lo sendiri." Ucap Aldi hati-hati. "Tapi kita cuma orang asing. Lo bisa-bisanya nikahin gue gitu aja. Gimana kalau gue orang jahat? Gimana kalau lo yang orang jahat? Gu-gue..." Aya menggeleng. "Gue gatau," lanjut Aya pelan. Apa karena ini juga Papa Aldi mengatakan kalau Aya sudah mengambil anak laki-lakinya? Jadi Papa Aldi tidak merestui mereka? Rasanya Aya semakin dibuat pusing. Aya menggeleng, "Ini, ini semua masih ga masuk akal." Aldi tau Aya tidak akan menerima dengan mudah. Tapi ia sudah berjanji, tidak hanya dihadapan Ayah Aya dan para saksi, tapi juga dihadapan Allah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido