Duke, Please Stop Because it Hurts

Duke, Please Stop Because it Hurts

  • WpView
    Reads 26,584
  • WpVote
    Votes 1,594
  • WpPart
    Parts 90
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Dec 18, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Molitia Clemence lahir sakit-sakitan. Dia lupa menutupi dirinya dengan selimut dan masuk angin. Dia bangun di sebelah suaminya setelah 10 hari hanya karena sedikit flu. Molitia nyaris tidak bertahan di antara benang tipis hidup dan mati. Ketika dia membuka matanya, dia menyadari bahwa suaminya entah bagaimana bertingkah berbeda dari biasanya...?! *** "Sudahkah kamu makan?" (Suami) "Ya." (Molita) "Ini perut orang yang makan?" (Suami) Dia mengerutkan kening saat dia membelai perut bagian bawahnya yang rata. Dia memegang pergelangan tangannya dengan hati-hati, seolah-olah itu akan patah. Suaranya meninggi. "Kenapa pergelangan tanganmu sangat tipis? Apakah kamu manusia? " (Suami) "Itu ..." (Molitia) "Kepala pelayan!" (Suami) Kepala pelayan bergegas ke suaranya yang marah, gelisah dengan pergelangan tangannya. "Ambilkan aku makanan untuk istriku. Sesuatu yang akan membantunya tetap sehat. membuatnya baik-baik saja." (Suami) Mulut Molitia terbuka mendengar kata-kata suaminya, tetapi tidak ada suara yang keluar. "Aku baru saja makan?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [END] When the Stars are Tired
  • Fall
  • I Am Drugs [Completed]
  • Master Hong's Lucky Bride
  • Plot Twist - Hartono's Fam [END]
  • TCOMHIATN [TAMAT]
  • MDCF [TAMAT]
  • Married For Stimulate

[TAMAT-LENGKAP] Vote dan komentar sangat diapresiasi😺 Di kota yang tidak pernah benar-benar tidur, di antara bangunan yang dibangun dari ambisi dan jalanan yang tak pernah mengizinkan langkah berhenti terlalu lama, ada dua jiwa yang terus berjalan bukan karena tahu arah, tetapi karena tak tahu bagaimana cara berhenti. Prawira Dirja Kartasasmita yang tumbuh terlalu cepat, terlalu sunyi, terlalu terbiasa membungkam isi hati demi memenuhi ekspektasi. Hidup dalam dunia yang menuntut ketegasan tanpa jeda, di mana keberhasilan adalah mata uang, dan kelembutan dianggap kelemahan. Bukti nyata bahkan jiwa yang paling terlatih pun, pada akhirnya, bisa lelah juga. Rania Dwijaswari Atmadja yang dibesarkan dengan cinta dan tawa keluarga. Anak tunggal yang belajar menjadi dewasa sebelum waktunya, tetapi sering lupa bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Di balik senyumnya tersimpan pertanyaan sederhana: akankah ia menemukan dirinya lagi jika terlalu lama beristirahat? Dalam perjalanan panjang yang penuh kebetulan untuk mencari tempat rehat dari kungkungan ekspektasi, akankah dua jiwa ini menemukan alasan untuk tetap duduk, ataukah pintu untuk pergi terasa lebih mudah untuk dijalani? #2 di Romansa (30 Juli 2025)

More details
WpActionLinkContent Guidelines