Shabita
  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Nov 15, 2021
Kepala ku rasanya mau pecah. Sesak sekali, kala nama itu kembali ku sebut dalam heningnya malam. Kembali ku ceritakan, bagaimana dulu dia yang ku sebut sempurna, kini menghilang dalam sekejap mata. Bukan perpisahan yang ku tangisi. Bukan pula pertemuan yang ku sesali. Bahkan aku sendiri saja bingung, mengapa aku masih betah menatap bintang seolah ia adalah kau? Mengapa aku masih membiarkan cairan bening itu terjun bebas dari tempatnya? Mengapa aku masih berbicara pada malam, seolah aku sedang berbincang denganmu? Mengapa aku masih belum bisa merelakan mu? Ku mohon jangan tanyakan itu. Pertanyaan atas jawaban yang tak pernah ku siapkan.
All Rights Reserved
#37
relationshit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • JANUS
  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • Misteri- US
  • ngger adalah vandyku
  • DOPAMINE [HIATUS]
  • Backstreet: Life After Breaking Up
  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines