My Destiny

My Destiny

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 24, 2022
"Aku sudah berusaha untuk selalu tetap ikhlas, tapi tetap saja rasanya sakit sekali saat mengalami hal seperti ini. Aku tau, Allah Maha Baik. Tapi kenapa musibah ini harus terulang lagi dan lagi?" *** Hidup ini adalah penantian. Yang bersekolah menanti kelulusan. Yang single menanti jodoh. Yang sudah menikah menanti kehamilan. Yang hamil menanti kelahiran. Dan semua manusia menanti kapan akan berpulang pada-Nya. Bagi Kia, menanti adalah hal yang harus ia lewati dengan sabar dan ikhlas dalam perjalanan hidup. Ia sangat sadar bahwa garis takdir hidupnya telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Tak ada yang bisa dilakukan, selain berusaha dengan penuh rasa syukur juga menanti dengan penuh keikhlasan. Meskipun sangat sulit rasanya untuk menjadi benar-benar ikhlas dalam menerima ketetapan-Nya.
All Rights Reserved
#184
jodoh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kara: I Left God at The Door
  • Rahasia Dibalik Akad
  • Satuan Takdir
  • Sepertiga Malam Bersama Allah
  • Imam Surgaku (On Going)
  • Cinta tak keliru (END)
  • LANGIT TERAKHIR UNTUK PELANGI
  • Kembali Bersamamu (END)
  • Jodoh Terhalang Restu
  • Lauhul Mahfudz (END)

Salahkah mereka yang mencoba berpaling? Ataukah mereka memang sudah dibutakan oleh kenikmatan duniawi? Lenaan yang memikat membuat siapa pun rela meninggalkan Tuhannya meski itu hanya di depan pintu. Ambar telah melakukannya. Dia rela meninggalkan Tuhan di depan pintu dengan dalih untuk mengobati luka hatinya. Lalu, bagaimana Ambar harus mempertanggungjawabkan tindakannya itu? Saat mencoba menebus kesalahannya, tamparan nasib membuatnya harus menyaksikan anak-anaknya tewas mengenaskan di tangan anak tertuanya. Mungkinkah ini teguran karena telah meninggalkan Tuhan? Tidak sampai di situ kegetiran hidup yang harus dia rasakan. Anak terakhir Ambar, Kara, kembali mengulang kesalahannya. Saat gadis lugu itu mencoba kembali mengais cinta kasih Tuhan dengan beban turunan yang dia pikul dari orang-orang yang telah meninggalkannya, terpaan badai kehidupan kembali memporakporandaan batinnya. Dapatkah Kara kembali ke jalan yang Tuhan kehendaki dan menjadi hamba yang taat?

More details
WpActionLinkContent Guidelines