Jawaban dari waktu

Jawaban dari waktu

  • WpView
    Reads 123
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 4, 2021
Cerita ini tentang anak laki laki bernama arthury prajalotha. Seorang yang dituntut harus sempurna tapi nyatanya dia memang tidak sempurna. Dari beberapa penyakit yang mengidap dan kenangan suram dari masa lalu membuatnya tidak bisa mengekspresikan diri nya sendiri "manusia tak harus tumbuh dengan jiwa yang sehat kan? jadi tak apa jika aku tumbuh dengan jiwa yang terluka" batin nya. Tapi suatu hari, dia bertemu dengan perempuan yang mengubah pandangan dirinya tentang dunia. Maura shin mulya, siapa lanjuttan nama gadis itu? Gadis ini tak menyebutkan nama nya secara gamblang. Dia gadis yang ekspresif, mungkin tidak sepintar arthur tapi dia sangat aktif di sekolah. Gadis ini mengajari arthur tentang banyak hal, dia membuat arthur percaya bahwa memang yang selalu arthur percaya belum tentu terjadi di dunia nyata. Semua mereka lalui bersama, bahkan arthur yang tak pernah menerima dirinya sendiri. Harus menerima kenyataan pahit tentang suatu jawaban yang tidak dia ketahui sejak lama. Sepasang kekasih yang memiliki jalan pulang yang searah memang tidak selalu di takdirkan untuk pulang bersama kan? Tapi entahlah, biar jawaban dari waktu yang menentukan nasib cinta mereka.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • C
  • PACARNYA LOU
  • Meneroka Jiwa 2
  • Sepotong Kata yang Tak Selesai
  • DEAR RAGA
  • ARDHANI [ On-going ]
  • Narasi patah hati
  • Happy Ending
  • ARKALYA (END)
C

"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines