HI School Spionase

HI School Spionase

  • WpView
    Reads 850
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 22, 2025
Langit Biru P terpaksa menjalankan misi yang dibebankan kepadanya dengan menyusup masuk ke SMA Wiramandala. Sebenarnya itu tidak akan menjadi masalah seandainya dia melakukan penyusupan seperti biasa. Yang jadi masalah adalah dia harus berkamuflase menjadi anak SMA di sana. Ckk! Yang benar saja. 🚓🚓🚓 Rangga Sutiyoso, atasanku, melemparkan tumpukan berkas itu tepat di depanku. Untung saja tumpukan itu tidak mengenai wajahku. "Kamu lihat itu, Langit!" Dia mulai mengomel sambil menunjuk berkas-berkas itu, "Bagaimana mungkin divisi kita," Kalian dengar itu? Dia menekankan divisi kita. Divisi kita dengan nada yang sangat berat. "...dipermainkan oleh segerombolan anak SMA? Kamu dengar itu Letnan? Anak SMA?" Aku membuka lembaran berkas yang kini ada di tanganku; melihat beberapa nama dan wajah yang tertera di sana. "Beri saya waktu, Pak. Saya akan segera meringkus mereka." Dia tersenyum penuh arti. Kalian lihat itu? Jika dia sudah tersenyum seperti itu, biasanya akan ada 'bencana'. "Ya, Letnan. Tentu saja memang seperti itu." Dia kembali berkata, "Kamu memang harus meringkus mereka. Tapi, kali ini tidak dengan cara biasa..." Aku mengerutkan dahi. "Apa maksud Anda, Pak?" Perasaanku sudah mulai tidak enak. "Aku ingin kamu menyusup ke sekolah itu, Letnan Langit." Aku mengerutkan dahi. Ini... "Tentu saja dengan kata lain..." Sebuah seringai muncul di wajahnya. Ini mulai terasa seolah kau mendengar seseorang menarik pelatuk dengan selongsong terarah ke kepalamu. Aku jadi merasa tidak enak. Benar-benar merasa tidak enak. "Dengan kata lain ... kamu harus, menjadi siswa SMA lagi, Letnan." Tuh kan!? Aku mengeluh di dalam hati melihat dirinya yang tersenyum lebar. Yang benar saja, ini benar-benar bencana. 🚓🚓🚓 Source pic : Google
All Rights Reserved
#97
undercover
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Petikan Lingga
  • Asya Amarra [ By astar1913 ]
  • LangTari (Sudah Terbit)
  • KEBETULAN YANG TERLALU RAPI
  • IDOL [TAMAT]
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • Rannia√
  • My Eternal Moon [ End ✔️]
  • Kelas A [End]
  • MahardiKarina

Suara petikan gitar mengisi ruangan kecil itu, menggema lembut di antara dinding-dinding kosong. Lingga duduk bersila di lantai, memeluk gitar akustiknya seperti seorang sahabat lama yang selalu setia mendengar. Tangannya bergerak perlahan, memainkan melodi yang sederhana namun penuh makna. Mata Lingga terpejam, seakan mencari ketenangan di antara setiap nada yang ia mainkan. Hari itu, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Langit berwarna jingga keemasan, tanda bahwa senja sudah mulai memeluk hari. Lingga tahu bahwa waktu terus berjalan, namun ia merasa seolah detik-detik itu melambat saat ia tenggelam dalam musiknya. Di sudut ruangan, terletak sebuah foto kecil yang berdiri di atas meja kayu. Foto itu adalah potret dirinya bersama Nalendra-tertawa bersama di sebuah taman dengan cahaya matahari menerpa wajah mereka. Lingga melirik foto itu sejenak, senyumnya muncul tapi dengan berat, seakan ada sesuatu yang tertahan. Petikannya terhenti. Lingga menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, memandangi gitar di pangkuannya. "Len... gue nggak tahu kenapa gue selalu mainin lagu ini setiap kali gue mikirin lo," gumamnya lirih. Ia mengusap wajahnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Hening. Hanya ada suara angin yang meniup lembut tirai jendela. Lingga kembali menyandarkan punggungnya ke dinding, mencoba mengingat saat-saat ia dan Nalendra duduk bersama di tempat ini. Gitar yang kini di tangannya pernah dimainkan oleh Nalendra, bahkan melodi yang ia mainkan barusan adalah lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. "Mungkin lo bener, Len," bisiknya pelan. "Hidup ini nggak selalu soal yang sempurna, tapi soal belajar menerima." Lingga tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines