The Spring That Never Came

The Spring That Never Came

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 5, 2022
"Aku membenci sifatmu itu. Demi melindungiku? Hah! Kau selalu menggunakan alasan itu untuk medorongku menjauh. Aku bukan lagi anak kecil yang tidak bisa melindungimu!" "Ini sudah terlalu jauh. Maafkan aku, aku harus segera mengakhiri ini semua. Seharusnya aku tidak perlu mengulurkan tanganku padamu waktu itu." -- Wanita itu bagaikan seorang putri di buku dongeng. Segala hal di sekelilingnya tampak cantik dan hangat. Mansion yang indah, adik yang sangat menyayanginya, dan berbagai hal mewah ada pada dirinya. Helfreich tahu saat dia menawarkan akan memberikan wanitu apa saja, dia sedang membodohi dirinya sendiri. Apa yang kurang dari Lady ini? "Terima kasih sudah mengijinkan saya menginap di kediaman Anda. Apa ada hal yang Anda inginkan? Saya akan dengan senang hati membantu Anda." ujar Helferich. "Apa pun?" "Ya, saya akan berusaha memberikannya untuk Anda." "Kalau begitu, bunuh aku." ucap Lady Reinhilde. TW: PTSD / Toxic relationship / Suicidalthouhgts / Murder / Horror
All Rights Reserved
#50
nctjaemin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Impossibility
  • 𝚁𝙰𝚂𝙺𝙷𝙰𝙹𝙸 ✔
  • I Am Not Boy
  • Seven Rules
  • Dear Renjun || Nct Dream
  • Ramadhan With Barudak
  • Someone [ Nct Dream ]
  • ABANG || JICHEN (END) ✔️
  • Still With You  [ Revisi Dan Akan Di Bukukan ]
  • Hello, Grayson [SELESAI]

Terjebak dalam permainan takdir dan tipu daya, seorang putri dari Kerajaan Querëncia mendapati dirinya terbelah antara cinta yang terlarang dan tuntutan untuk menerima lamaran putra mahkota. Di balik paras sempurna sang pangeran, bersembunyi sesuatu yang bisa menghancurkan segalanya. "Kau mencintainya, tetapi dia milikku sekarang." Di tengah intrik istana dan hasrat yang tak bisa ia padamkan, sang putri harus menentukan, akankah ia mengorbankan perasaannya atau sebuah takhta? Sebuah pilihan yang mustahil, di mana setiap langkah bisa membawanya menuju kehancuran. Serta penghakiman yang tak kunjung usai di arahkan kepadanya, akan kah ia bertahan dan memilih untuk membiarkan hal tersebut atau melakukan sebuah balas dendam? "Kau telah berkhianat, Camella.." "Saya mencintainya, Yang Mulia." 𝗔𝗸𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗶𝗻𝘀𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗲𝗸𝗮𝘁 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗺𝘂𝗻𝗴𝗸𝗶𝗻𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗮𝗱𝗮 𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻𝘆𝗮.

More details
WpActionLinkContent Guidelines