Saina menatap ragu pada kedua orangtuanya, ia sudah pasrah jika memang tidak diizinkan. Tapi melihat keseriusan ayahnya hatinya mendadak gusar apalagi saat ia memandang ibunya yang tidak mau menatap netranya. Sebelumnya Saina sempat bersitegang dan melakukan aksi diam-diaman seminggu lamanya. Hari itu ayahnya langsung menyetujui keinginannya dengan bersyarat. Syaratnya, "Papa akan izinin kamu kuliah di luar negeri, kami sudah berunding dan mama pun setuju atas saran papa." "Jadi, pa?" tanya Saina tak sabaran. "Papa mau kamu nikah sebelum masa perkuliahan dimulai." Seperti kejatuhan bom hati Saina langsung dag-dig-dug ser mendengar titah ayahnya, tidak itu bukan sekedar omongan saja tapi itu adalah perintah jika ia tetap mau keinginannya.
Więcej szczegółów