Story cover for Opposite Personality by Yeorinajung17
Opposite Personality
  • WpView
    Reads 743
  • WpVote
    Votes 280
  • WpPart
    Parts 21
  • WpView
    Reads 743
  • WpVote
    Votes 280
  • WpPart
    Parts 21
Ongoing, First published Nov 21, 2021
Belzza Trisha Zeanna
cewek 17 tahun yang memiliki kepribadian tomboy dan humble terhadap semua orang,hobby balapan liar dan mengkoleksi barang barang yang berhubungan dengan anak cowok.

Arsalan Kevlar Alterio
cowok 17 tahun yang memiliki kepribadian introvert dan anti sosial,hobby membaca buku dan mengkoleksi barang barang yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.


Bagaimana jadinya sepasang anak manusia yang memiliki sifat yang bertolak belakang dipaksa tinggal satu atap oleh orang tua mereka untuk mengubah kepribadian mereka masing masing.

Akankah mereka bisa mengubah kepribadian mereka setelah tinggal satu atap?

"Hidup lo kaku bener deh kek kanebo kering,sekali sekali pergi nongkrong keluar gitu kek."

"Daripada saya buang waktu pergi nongkrong keluar,mending saya belajar di rumah."

"Pergi nongkrong nggak bakal bikin lo goblok dalam sekejap."
All Rights Reserved
Sign up to add Opposite Personality to your library and receive updates
or
#557karina
Content Guidelines
You may also like
Dua cangkir satu Meja  by byjulieeeee
53 parts Complete
Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025
You may also like
Slide 1 of 9
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
KISAH DI BALIK PINTU || NCT DREAM [✓] cover
[✔] BROTHER-NCT cover
Senja Jadi Sendu (END) cover
When Love Became a Memory cover
Dua cangkir satu Meja  cover
Kue Manis & Rasa Pahit | Hyuckna cover
Karakter Sampingan (Haechan) cover
Cowo Dingin | Jung Jaehyun ✔ cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 parts Complete

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."