Jakarta Syndrome

Jakarta Syndrome

  • WpView
    Membaca 155
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 20
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Sep 12, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Dua wanita hadir di dalam kehidupan Alvian. Perempuan yang membuatnya merasa bersalah di setiap apa yang dia lakukan padanya, dan perempuan yang selalu membuatnya merasa ketidak-pantasan karena bisa memilikinya. Alvian mengalami kecelakaan kereta api yang melibatkan seorang perempuan. Adik dari perempuan tersebut datang bertahun-tahun setelahnya, untuk menghukum dan menghakimi. Di sisi lain, perempuan dari jurusan Psikologi juga memikat hatinya
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#217
psikologi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • SELAT MALAKA {segera dibukukan}
  • Cinta Didua Masa
  • Senja Kelana
  • Ready For Love
  • Geng Bratadikara (TERBIT) ✓
  • Notifikasi
  • Hope Was My Mistake
  • DIKA & ADRA

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan