We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
THE NAKED JOBSEEKER

THE NAKED JOBSEEKER

  • WpView
    Reads 741
  • WpVote
    Votes 53
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
[[Cerita ini bukan fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian atau cerita, itu berarti hidup anda punya tombol ctrl c + ctrl v]] "Jadi gini. Siapa nama kamu?" "Magdalena, Bu. Panggil Lena saja Bu." "Jadi Lena ya, saya gak akan nanya pertanyaan interview lagi. Saya tahu kamu pasti sudah bosan ditanyain saat wawancara dari tadi siang." ((Tau aja si ibu)) "Kerja di departemen marketing ini tekanannya berat, karena ada target yang harus dicapai. Jadi kamu harus siap saya teriakin setiap hari kalau kerja kamu lelet. Ingat, pencapaian kamu hanya dinilai dari target yang kamu hasilkan. Tidak ada yang lain. Makanya di sini gak boleh cengeng, gak boleh baper. Ya?" Karena malas nyari loker lain aku cuma bisa jawab, "Siap, Bu." "Kamu bisa multi-tasking?" ((Bisa, Bu. Saya bisa ngerap sambil memaki)) "Disini itu harus bisa multi-tasking dan minim bahkan nol kesalahan. Saya orangnya keras loh ya, cerewet dan gak suka orang yang lamban . PAHAM??" Karena malu nanti nganggur sendirian padahal kawan-kawan seangkatan udah pada kerja, aku pun mengangguk. Hari itu aku tanda tangan kontrak kerja, jadi sales di perusahaan importir stainless steel. Hingga 3 bulan kemudian aku kabur tanpa pemberitahuan. BTW, aku lulusan sarjana teknik pertambangan. Tapi cita-cita pengen jadi reporter.
All Rights Reserved
#34
kantoran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • friendship dump
  • CINTA SELEBGRAM DAN TUAN CEO (SELESAI)
  • SCOMPARIRE
  • My Senior is My Coldest BoyFriend [Chapter 1 Completed+ Revisi]
  • Naughty Nanny
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Tingkat Tiga
  • RAKAALENA
  • CHAOS || Ticket Hero X Oc Male Minerva

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines