Story cover for 𝟏 𝐇𝐨𝐮𝐫 𝟓𝟎 𝐒𝐞𝐜𝐨𝐧𝐝𝐬 by Capucino_lav
𝟏 𝐇𝐨𝐮𝐫 𝟓𝟎 𝐒𝐞𝐜𝐨𝐧𝐝𝐬
  • WpView
    Reads 43
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 43
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Nov 28, 2021
"Yaudah, aku temani vidio Call sampai nih Hp meledak" Sautnya.

"Hm" Jawabku.

"Kan ngambek, yaudah aku ke rumah yah !"

"Nggak usah"

"Biarin, aku tetap ke rumah"

"Hm"

"Sepertinya kamu kembarannya Nissa Sabyan deh !" Celutuknya.

"Hm".

"Garing lagi kan, udah deh marahnya, mau berubah seperti nenek lampir, mau ?".

"Hm".

"Udah, aku matiin telponnya yah, nanti aku ke sana. mau munggutin bibir kamu yang udah mau jatuh"

"Hm" jawabku walau sedikit tersenyum tipis.
All Rights Reserved
Sign up to add 𝟏 𝐇𝐨𝐮𝐫 𝟓𝟎 𝐒𝐞𝐜𝐨𝐧𝐝𝐬 to your library and receive updates
or
#955waktu
Content Guidelines
You may also like
(Bukan) Keluarga by akulily_
25 parts Ongoing
Sequel 'Umi untuk Putraku' __________________________ Dulu, ia menikah dengan seorang duda berbuntut satu. Namun, sekarang ia men-janda. Tertinggal putra putrinya yang menjadi kunci ia bersemangat. Keduanya pula yang menjadi alasan kuat ia berusaha bangkit dalam kesenduan. Pikirnya semua akan baik ketika hatinya telah tertata apik setelah mengikhlaskan sedikit kepergian sang suami. Kenyataan berbanding terbalik. Awalnya semua baik, sangat baik. Sampai ia dijatuhkan oleh perasaan yang ia pikir baik. Semua kembali seperti dulu. Ketika ia dipinang almarhum sang suami dan memiliki putra sambung yang saat itu belum menerimanya. Ia harus berperang kembali merebut hati sang putra. Namun, bedanya tak ada sang suami yang menyemangatinya. Dengan hati yang masih berusaha mengikhlaskan almarhum sang suami, ia harus menggunakan sisa hatinya untuk melunakkan hati putranya yang tiba-tiba kembali mengeras entah karena apa. Ketika dulu sang suami melarangnya untuk bekerja, kini ia harus memaksa tulangnya untuk bekerja keras. Bukan hanya satu atau dua pekerjaan yang ia lakukan, tapi banyak pekerjaan yang dilakukannya. Tak ada waktu luang baginya. Hari-hari hanya ada kerja, kerja, dan kerja. Dengan menggendong sang putri ke mana pun langkahnya membawa. Semua demi sang putra yang berubah layaknya singa kelaparan. Pun dengan putrinya yang turut menjadi takut tiap kali melihat sang kakak. "Tak peduli badanku hanya tersisa tulang dan kulit. Apapun akan kulakukan untuk putraku." "Tak peduli badanku kurus kering tak terawat. Apapun akan kulakukan asal putriku bisa makan dengan kenyang." Kisah akan dimulai. Bagaimana single parent rapuh itu menjalani hidup barunya ...? SELAMAT MEMBACA:) Cover: Pinterest+Canva
You may also like
Slide 1 of 9
Pelangi di Balik Hujan Rindu cover
cool guy and a girl cool unified because of love cover
ANTARA DOA DAN RASA cover
Dia Nazzam  cover
SERIBU SISI ORIGAMI [COMPLETED] cover
Behind the Silence cover
(Bukan) Keluarga cover
Dinamika Ditengah Arus Waktu  cover
ALVANSA [Completed] cover

Pelangi di Balik Hujan Rindu

22 parts Complete

"Tidak semua cinta harus disuarakan. Tidak semua harap harus digenggam. Kadang, mencintai diam-diam adalah satu-satunya cara bertahan." Alia tidak pernah menyangka bahwa satu tatapan singkat di awal masa kuliahnya akan mengubah segalanya. Septian, lelaki dengan sorot mata tenang dan senyum yang jarang muncul, perlahan tumbuh menjadi pusat semesta kecil di dalam hatinya. Selama tiga puluh satu bulan, Alia menyimpan rasa itu sendiri. Dalam doa-doa sepertiga malam. Dalam senyum pura-pura. Dalam perasaan yang tak berani ia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Namun ketika kedekatan itu mulai tumbuh, semesta justru menguji dengan luka lama, rasa minder, dan kenyataan bahwa tidak semua yang kita doakan bisa kita miliki. Ini adalah kisah tentang cinta diam-diam, perasaan yang tumbuh tanpa janji, dan perjuangan mencintai diri sendiri di tengah luka yang belum sembuh. Pelangi di Balik Hujan Rindu bukan sekadar romansa. Ia adalah perjalanan tentang harapan, kehilangan, dan keberanian untuk melepaskan... meski hati belum benar-benar rela.