Zero Family

Zero Family

  • WpView
    Reads 249
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 24, 2021
"Sahabat sampai akhir, Keluarga selamanya" 7 lelaki yang memiliki kisah pahit tentang keluarga, dan masa lalu yang suram yang pada awalnya mereka berada di titik terendah dalam kehidupan masing masing lalu secara bertahap semuanya mulai mengenal satu sama lain, lebih mengenal apa yang di suka dan tak disuka dan lebih menjadi keluarga. "Kita keluarga, lo pada kenapa nutupinnya semua?, Bang Mahen pernah bilang kan waktu itu, Apapun masalahnya kita harus bersama sama, Tapi ini" Tekan Jaka meluakkan isi hati nya yang ia bendung selama ini. "Kita bakal kesana cuman gak sekarang" "Pulang perginya seseorang tak ada yang tahu, hanya Tuhan lah yang tahu semuanya, jika pun salah satu pergi, ga bakal ada yang berubah kalau lo bisa mengikhlaskan lo akan mengerti mereka selalu ada bareng kita setiap waktu" Ujar Caka sembari menepuk bahu Jaka lalu pergi meninggalkan Jaka sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Our Juvenile : MANGUN KARSA
  • Secret Love✔ | [NCT Dream]
  • Seven Brothers
  • KISAH DI BALIK PINTU || NCT DREAM [✓]
  • Jung Haechan
  • 7 ATMADJA (END)
  • Side Two Side || Complate
  • All For Jievin [END]

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines