Close : 09:12 PM

Close : 09:12 PM

  • WpView
    Membaca 22
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Des 5, 2021
"Jangan jadi yang paling jago ngebenci diri sendiri tapi dengan mudah maafin orang lain, Je." "Mudah maafin orang lain, bagus, kan?" "Bagus. Tapi bukan cuma orang lain yang butuh maaf dari lo," Tangan Asa tergerak untuk menghapus sisa liptint berwarna merah kecokelatan yang ada di sudut bibir Jema, "Diri lo sendiri juga butuh." - - - - - - - - Asa itu pengacau, bencana, dan sangat patut dijauhi untuk ketenangan jiwa. Tapi makin lama, tanpa Jema sadar, hadirnya Asa ternyata memberinya pengaruh untuk mengerti isi dunia dari sudut pandang yang menyenangkan. Kata Jema, Asa itu kayak cahaya. Kemarin memang gelap, tapi hari ini ada Asa. Cahaya, tolong jangan redup. Disini, Jema masih butuh. Bantu Jema menghidupkan sinarnya sendiri, ya? - - - - - - - Close : 09:12 PM
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#13
bodyshaming
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • PAIN (TERBIT) ✔
  • LOST SIGNAL
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • Di Balik Bayang Asa
  • EVIDEN (Republish)
  • HIDDEN I (The End)
  • Nathalea

"Semua keinginan gue, gak pernah jadi kenyataan. Itu cara kehidupan menghukum gue." *** Aga, atau lebih lengkapnya Airlangga Putra Senja. Pangeran bermata kelabu paling sempurna abad ini dengan tatapan menghangatkan namun sorot mata yang terlihat begitu lelah. Ia memiliki segala yang diinginkan oleh teman-temannya. Ketampanan.Kecerdasan. Kekayaan. Bahkan kebaikan hatinya. Kecuali satu, fakta bahwa ia tak lagi memiliki minat apapun di dunia ini bahkan terhadap hidupnya sendiri. He almost perfect... Namun Caca membencinya. Tapi tunggu, sampai Aga tiba-tiba saja selalu muncul di dekatnya. Apa yang harus ia lakukan? Dan bagaimana jadinya ketika bom waktu yang terpendam dalam mata kelabu itu akhirnya meledak? Ini adalah kisah bagaimana kata-kata yang tak kau anggap berarti, terkadang mampu mendorong seseorang hingga ke tebing keputusasaan. ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ "BENCI BANGET!" "Gue benci sama dia. TITIK. Jangan tanya alasannya kenapa kalo gak mau tuh luka gue bikin panjang sampe ke dagu, ngerti?!"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan