JENDRA | LEE JENO

JENDRA | LEE JENO

  • WpView
    Reads 180,641
  • WpVote
    Votes 22,007
  • WpPart
    Parts 129
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 28, 2024
"Ayah enggak berani lawan duel sama abang? wajar sih, soalnya ayah udah jompo." ujar anak tersebut dengan tawa pecah nya. "Kurang ajar ini anak, kata siapa ayah enggak berani? abang tau ayah lebih tua dari abang, berarti ayah jauh lebih berpengalaman. lawan modelan kayak abang mah enggak seberapa bang." sahut si ayah menimpali ujaran anak nya. ••• "Haduh ayah kunaon si meni sad boy kitu euy? oh biar abang tebak, pasti gegara tadi siang ngeliat bunda ama cowok ya yah? hahahahhaha haduh meni sad hidup ayah." ujar si kecil dengan tawa riang nya, yang memang hobby mengejek sang ayah. "Cicing weh sehari bisa enggak si bang?" jawab pria yang tengah berbaring lunglai di atas sofa seolah tidak ada tujuan hidup. "Semangat ayah mencari cara membujuk bunda biar satu rumah lagi! yhahahahhaha." tawa lepas anak itu. ••• "Keren euy bunda nya jendra, cowok nya meni ganti ganti kitu bun." senyum jahil menghiasi wajah tampan sang anak. "Suttt mulut nya jendra. apasi cowok cowok, itu rekan rekan kerja bunda, kamu ngawur aja nih jen." katanya si bunda yang lagi di ejek anak nya sendiri. "Atuh dah gapapa bund, bunda oci kan emang cantik." jujur si jendra dengan ekspresi sumringah nya. "Emangnya jendra mau punya papah? kan jendra baru punya ayah satu tuh yang rese nya nauzubillah." tawaran yang mengejutkan terlontar begitu random. "Perasaan aku mah enggak ada bilang mau punya papah baru? iya si ayah mah emang ngeselin banget bun, tapi jendra cuman mau punya ayah satu aja." ••• Tawa riang, senyum ceria, semua itu membuat pribadi seorang jendra terlihat seperti anak yang selalu have fun dengan keadaan. Padahal disisi lain, jendra suka menangis karena berangan angan kapan ayah dan bunda berada di satu rumah lagi, jendra yang selalu ingin marah karena merasa muak dengan kebisingan yang terekam di pikiran nya. Jendra benci perpisahan orang tua nya.
All Rights Reserved
#14
jaerose
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • KISAH DI BALIK PINTU || NCT DREAM [✓]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Perihal Sandwich(End)
  • KONTRAKAN JJ ✔
  • Is It Home ?
  • DRAFENZO SHAQUILLE
  • Sulung
  • MFS ✓

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines