Story cover for Biodata | Renjun [END] by ZolaElowen
Biodata | Renjun [END]
  • WpView
    Reads 535
  • WpVote
    Votes 68
  • WpPart
    Parts 20
  • WpView
    Reads 535
  • WpVote
    Votes 68
  • WpPart
    Parts 20
Complete, First published Dec 03, 2021
Penyesalan memang datang di akhir, banyak orang yang bersedih saat sosok ceria itu pergi. Air mata terus mengalir dan isak tangis sang ibunda masih terdengar hingga larut malam, kehilangan sosok yang selama ini ia rawat, ia jaga dan ia didik dengan baik membuat hatinya remuk dan hancur menjadi kepingan tak berharga. Senyum manis, pipi gembul dan rambut halus itu tak bisa lagi ia rasakan, hari-harinya ia lalui dengan suasana suram tanpa tawa dan pelukan sang anak, berat sekali baginya untuk bertahan. 

"Bunda mau lihat kamu pake topi toga nak..."-Widia.
All Rights Reserved
Sign up to add Biodata | Renjun [END] to your library and receive updates
or
#1renza
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
Janji diujung Lontaraq cover
Sang Pemilik[End] cover
LOVE AND REVENGE (Missing Piece) - VERSI I cover
That's My Girl cover
The Return Of First Love cover
BUNGAKU TELAH KERING [Belum revisi] cover
Marsella (1) cover
Langit Kelabu Milik Ara cover
SENANDIKA (Zeedel) cover

Janji diujung Lontaraq

37 parts Ongoing

Suara peluit pertama terdengar. Afdal sudah menaiki anak tangga kereta, lalu menoleh ke Baruna. "Bang, ayo!" Baruna mengangguk pelan, lalu menunduk mengambil gagang kopernya. Tapi saat itu juga, ia menoleh ke arah Ale sekali lagi-dan langkahnya terhenti. Pandangannya bertemu dengan mata Ale yang tak bergeming. Ada sesuatu yang menahan di dada. Sesuatu yang tak bisa dibawa pergi begitu saja. Baruna mendadak melepaskan koper itu begitu saja. Ditinggalkannya di sisi gerbong. Kakinya melangkah cepat, lalu berubah jadi lari kecil menyusuri tepi peron. Beberapa orang menoleh, bingung. Tapi ia tidak peduli. Ia berhenti tepat di hadapan Ale. Ale tampak kaget, nyaris bersuara, tapi Baruna sudah lebih dulu meraih bahunya dan memeluknya erat. Tak ada kata. Hanya tubuh yang melepas beban, dan tangan yang ingin menggenggam waktu sedikit lebih lama. Pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik. Tapi cukup untuk mengatakan hal-hal yang belum pernah mereka ucapkan. Saat Baruna melepaskan pelukannya, Ale masih menatapnya dengan mata yang nyaris berkaca. "Jaga diri," bisiknya.