A & B (On Going)

A & B (On Going)

  • WpView
    Reads 254
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 8, 2022
Alexsandra Giovani Darmawangsa adalah sosok gadis periang kesayangan keluarga Darmawangsa. Hidupnya adalah impian remaja seusianya. Cantik? sudah pasti. Kaya? jelas, harta kekayaan Darmawangsa bahkan tidak akan habis 10 turunan. Hidupnya nyaris sempurna, hanya ada 2 hal yang kurang kepintaran dan cinta dari laki-laki pujaanya. Berylion Candratama Delton, laki-laki tampan rupawan dengan segudang prestasi yang membuat kaum hawa menjerit saat mendengar namanya, sayangnya sampai detik ini belum ada wanita yang berhasil mendekatinya. Semua wanita akan mundur pelan-pelan ketika melihat tatapan setajam silet milik Leon. Ah sepertinya tidak dengan Sandra yang memilik mental setebal baja. Ia malah senang menggangu Leon. Menurutnya tatapan maut Leon adalah amunisi semangat yang begitu kuat.
All Rights Reserved
#560
berjuang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • ALEXSA [END]
  • Happiness
  • DIA ANEH
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Endless Summer [TAHAP REVISI]
  • Aku Adalah Lukamu
  • Rainbow
  • Antardhi
  • LEON

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines