Rintik Sendu | On Going

Rintik Sendu | On Going

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 22, 2021
"𝓕𝓲𝓷𝓮 𝓽𝓱𝓪𝓽'𝓼 𝓪 𝓵𝓲𝓮. 𝓑𝓮𝓬𝓪𝓾𝓼𝓮, 𝓲𝓷 𝓯𝓪𝓬𝓽 𝓻𝓲𝓰𝓱𝓽 𝓷𝓸𝔀 𝓘'𝓶 𝓷𝓸𝓽 𝓸𝓴𝓪𝔂", 𝔐𝔬𝔬𝔫𝔞, 𝚁𝚒𝚗𝚝𝚒𝚔 𝚜𝚎𝚗𝚍𝚞. Moona yang harus bertahan hidup dengan menyimpan banyak luka didalam hatinya. Meskipun demikian, Moona tidak pernah mengeluh. Karena, ia yakin Tuhan selalu ada di dalam hatinya dan selalu ada untuknya. Oh tidak, ingat! meskipun Moona tidak pernah mengeluh dengan hidupnya bukan berarti dia tidak pernah merasa lelah atau menyerah. Karena, Moona sendiri juga adalah manusia biasa yang akan merasa lelah atau kadang menyerah. Tapi, ia tetap berusaha tegar dan sabar menjalani hidupnya. °°° "Aku bahkan tak pernah menyangka bahwa aku akan mendapat genre hidup seperti ini", Moona Agatha. °°° Saat ia mulai merasakan hadirnya pelita dalam kegelapan hidupnya ia merasa bahagia, bahkan sangat bahagia. Setidaknya, ia akhirnya memiliki tempat untuk berkeluh-kesah, menumpahkan segala luka yang ia pendam selama ini sendirian, serta menjadi penghibur dan penyemangat dalam hidupnya. Namun, itu tak bertahan lama,setelah suatu masalah datang menimpanya yang membuatnya tak lagi bisa percaya sama orang, ia merasa sangat kecewa. Ia merasa... memang benar kalau hanya Tuhanlah yang bisa ia percaya. Karena,masalah tersebut juga,nyatanya mampu membuat Raka kembali kesusahan untuk mendapatkan Moona. Karena, selama ini keduanya hanyalah terlibat dalam friendzone. Raka yang terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya, Moona yang terlalu sayang pada dirinya sendiri sehingga ia tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun semenjak kejadian naas itu terjadi.Baginya, yang harus ia sayangi didunia ini adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Karena, saat ia rapuh hanya Tuhan dan dirinya sendirilah yang mampu mengerti perasaannya.
All Rights Reserved
#13
moona
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Memory Of Tears
  • Tears Of Sincerity [TERBIT ✓]
  • Mysterious Girl
  • Painful By Accident (Completed)
  • Paradise
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Peluk Aku, Tuan
  • Breathe
  • Waktu?

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines