isekai Empath

isekai Empath

  • WpView
    Membaca 288
  • WpVote
    Vote 96
  • WpPart
    Bab 42
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Jan 10, 2022
WpInfo
Fiksi
Fantasi
Seorang gadis SMA yang meninggal karna kecelakaan di tangga sekolahnya,lalu terlempar ke dunia lain dan bertemu dengan 5 sahabat pemburu makhluk lalu berpikir bahwa Isekai merupakan orang yang terpilih untuk menjadi Dewi terakhir di dunia itu,tetapi yang sebenarnya adalah Isekai merupakan Empath yang langkah. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?ayo cepat baca!sebelum ketinggalan! cuma minjam nama/tokoh nya doang kok:v
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#26
ryuu
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • KINGS: Themis
  • isekai creator (Ongoing)
  • Yuki & The Fractured Realms: When a Boy Became a Faerie
  • Pelintas
  • Blooming Baby

Aria. Ia adalah anak kandung yang hilang. Dan saat kembali, tempatnya... telah digantikan. Tak ada pelukan. Tak ada air mata rindu. Yang ada hanya tatapan takut-takut kehadirannya akan merusak "kebahagiaan baru" yang bukan untuknya. Tapi ia diam. Ia bertahan. Karena ia masih punya satu hal yang dunia belum rebut darinya: saudari kembarnya, Asia. Sampai hari itu datang. Satu jebakan. Satu tragedi. Dan Asia... tak pernah kembali. Ia sendiri selamat. Tapi tidak utuh. Ia kehilangan lebih dari tubuh-ia kehilangan tempat, suara, dan makna. Dan dunia... tetap memilih membela mereka yang tampak bersih, tapi kotor di dalam. Ia bersuara-namun diasingkan. Ia hadir-namun dilupakan. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali. Bukan sebagai gadis yang pernah ditinggalkan. Tapi sebagai bayangan keadilan itu sendiri. Tenang. Tak bercela. Tak tersentuh. Menggeliat dalam gelap yang samar, berpura-pura bahwa ia adalah cahaya. Dan ketika mereka yang dulu mencintai yang salah mulai tumbang satu per satu, mereka bertanya: "Kenapa kami?" Ia hanya tersenyum. Lembut. Tajam. "Bukankah kita sedang bercanda?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan