Menelusuri Rasa

Menelusuri Rasa

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 3, 2022
"Ohh ini rasanya di mengerti ...." "Ohh ini rasa manisnya buah ..." "Ohh ini rasanya kecewa ..." "Ohh ini rasanya merasa istimewa ..." "Lalu, ini rasa apa?" Kiran ingin menelusuri berbagai macam rasa, mulai dari rasa pahit, manis, asam, dan masih banyak lagi. Namun, sebelum itu Kiran ditanya mengenai definisi rasa itu sendiri. Bagaimana caranya menyikapi semua rasa yang ada di dunia ini?. Kira-kira rasa apa yang paling hebat di antara semua rasa yang hebat itu?. Apakah ia bisa menemukan semua nama dari rasa itu?. Lalu apakah semua rasa itu bisa di ungkapkan?. Ataukah ada beberapa rasa yang hanya bisa di pendam?.
All Rights Reserved
#65
pendiam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Little Monster - Completed
  • THE CLIMB [Completed]
  • Aku Takut Tuhan Cemburu | Kumpulan Cerpen ✨
  • OMG, i really liked him
  • My love ' My Enemy [ END ]
  • ADYRA
  • friend and future [Iq-nam] (End)
  • Love Is Delicious [END]
  • SHETAN

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines