Olive-Drab Eyes

Olive-Drab Eyes

  • WpView
    Reads 2,540
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 1, 2017
Matanya yang membuat semua orang tertarik padanya, membuat semua orang ingin menjadi sahabatnya, jadi pacarnya. Semua orang mengira bahwa hidupnya sempurna, dipenuhi oleh orang-orang yang terkenal, kaya, dan baik hati. Tapi mereka semua salah. Kehidupannya jauh dari namanya 'sempurna'. Memang, nilainya bagus dan dia memiliki yang semua orang mau, uang. Tapi uang tidak bisa membuat kehidupannya bahagia dan sempurna. Jika orang-orang yang dulunya ia sayangi menjadi orang yang ia benci. Yang dulunya mereka memakai mahkota malaikat di kepalanya sekarang memakai tanduk merah dan memegang tongkat merah tajam. Apakah hidupnya akan terus menyiksanya, atau ada yang bisa membuatnya tersenyum kembali?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • LIKE A FOOL
  • Mrs. Comblang [Completed]
  • Rude Beautiful Girl [Sudah Terbit]
  • Image Change [COMPLETED]
  • Riptide [BEBERAPA CHAPTER DALAM TAHAP REVISI]
  • Aderaga [ON GOING]
  • Karena Kamu Rumahnya
  • Bertahan atau pergi
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines