Terbiasa Terluka

Terbiasa Terluka

  • WpView
    reads 4
  • WpVote
    Stemmen 1
  • WpPart
    Delen 1
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd din, mrt. 21, 2023
WpInfo
Fictie
Romantiek
Terluka? udah biasaa, bahkan itu asupan aku sehari- hari. Untuk bahagia saja sepertinya tidak akan pernah bisa walau sedetik saja. Ini kisahku, aku seorang anak SMA yang sedari kecil sudah dibiasakan untuk menjadi dewasa lantas, apa aku bisa bertahan lebih jauh lagi? cape ? pastii tapi untuk menyerah belum bisa karena banyak mimpi yang belum aku dapatkan.
Alle rechten voorbehouden
#382
terluka
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • HIDDEN I (The End)
  • GADIS LANGIT
  • Pathetic 2 ✓
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • Kalevi
  • Sederet Luka Untuk Indira (Sudah Terbit)
  • Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]
  • Benalu [Terbit]
  • Luka Dalam Senyum

"Apa yang bisa dibanggakan darimu?" Sebuah hubungan yang kompleks antara seorang ayah dan anak perempuannya. Ayah tersebut tidak pernah menunjukkan kasih sayang dan penerimaan terhadap anaknya, bahkan menganggapnya sebagai beban keluarga. *** Diasha hanya ingin satu hal, dicintai oleh ayahnya sendiri. Namun kasih sayang itu tak pernah datang, bahkan seolah tak pernah diharapkan. Ia tumbuh dalam rumah yang penuh dingin dan diam, mencoba menjadi anak baik agar dilihat, agar dianggap tapi hasilnya selalu sama, hampa. Meski begitu, Diasha tak pernah benar-benar bisa membenci ayahnya. Di hatinya, pria itu tetap sosok penting yang tak tergantikan. Sayangnya, apakah ayahnya berpikir hal yang sama? Ketika cinta yang seharusnya melindungi justru melukai, Diasha dihadapkan pada pertanyaan paling pahit dalam hidupnya: Apa gunanya hidup... jika rasanya seperti mati Attention: Cerita ini mengandung tema yang sensitif dan dapat memicu emosi yang kuat pada pembaca, terutama bagi mereka yang pernah mengalami pengalaman serupa. Mohon untuk tidak terlalu terpengaruh oleh cerita ini. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala reaksi emosi yang mungkin timbul, termasuk kebutuhan akan tisu. •dilarang keras menciplak karya ini•

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen