PTSD-Because Love 2

PTSD-Because Love 2

  • WpView
    LECTURAS 482
  • WpVote
    Votos 20
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, feb 25, 2022
WpInfo
Ficción
Romance
Pintu ruangan khusus itu terbuka. Memperlihatkan seorang wanita. Tubuh Dokter Aldi mendadak kaku. Matanya memerah ingin menangis. "Nah, Dokter Aldi, Dia lah wanita yang saya ceritakan selama setahun terakhir Anda di Jerman." Keputusan dua insan yang salah karena sudah menginjakan kakinya bergabung ke sebuah rumah sakit jiwa. Mereka pikir, ini awal dari kehidupan yang baru, tetapi, mereka salah. Ini keputusan yang salah. "Dokter Aㅡ" napas Dokter Aldi tersendat, ia mengeja nama yang ada pada seragam Dokter Wanita itu. Tidak, ia tidak bisa melanjutkannya ketika mata Wanita itu memerah dan air mata menetes dari matanya. ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Todos los derechos reservados
#31
ptsd
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Jurnal Dokter Muda
  • Jalan Pulang
  • Rasa Dalam Sujudku
  • Doctor Lil-Daddy [END]
  • Love in Psychiatrical
  • Irreversible || JaeDo
  • DÉNOUER [✔]
  • RUANG KELABU  [TAMAT]
  • Pergi Tapi Tidak Pulang [END]

Tiga belas dokter muda, baru lulus pendidikan spesialis dan umum, tinggal dalam satu kost sederhana di sudut kota Bandung. Mereka bukan sekadar rekan kerja, tapi teman seperjuangan yang menghadapi dunia rumah sakit dengan segala tekanan, darah, tawa, dan luka yang tak selalu kasat mata. Setiap hari adalah kisah baru-antara ruang tindakan, pasien yang kritis, konflik antar spesialis, hingga rahasia pribadi yang tak semua berani diungkap. Ada Adi, si tenang yang diam-diam mengidap anemia dan hemofilia. Ada Dion, satu-satunya dokter umum yang berusaha jadi penengah di antara para spesialis. Hao, si flamboyan yang dijuluki "buaya" karena tingkahnya di luar jam kerja. Dan mereka semua, satu per satu, dihadapkan pada batas antara kemanusiaan dan profesionalisme. Namun ketika tubuh dan emosi mulai jatuh satu per satu, mereka belajar bahwa menjadi dokter bukan cuma soal menyembuhkan-tapi juga bertahan hidup di antara rasa bersalah, kehilangan, dan cinta yang tertahan. Di tengah gedung rumah sakit yang tak pernah tidur, di antara bunyi monitor dan panggilan code blue, kisah mereka terus berjalan. Karena di balik jas putih itu... ada tiga belas jiwa yang juga ingin didengar. --- • Bahasa kadang baku kadang non baku Jangan lupa vote dan coment

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido