Hilma and rahman

Hilma and rahman

  • WpView
    GELESEN 13
  • WpVote
    Stimmen 20
  • WpPart
    Teile 3
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mo., Dez. 13, 2021
WpInfo
Belletristik
Romantik
"Saya akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya dicintai, disayangi, dihargai, diperlukan, dan juga saya berjanji akan membuatmu bahagia tanpa harus menjadikan dirimu orang yang berbeda, zaujati." Rahman meletakkan tangannya di ubun-ubun Hilma istri kecilnya yang sudah terlelap disampingnya dengan wajah sendunya. Yang kepo boleh langsung mampir ke cerita pertama ku. Semoga kalian, suka
Alle Rechte vorbehalten
#4
rahman
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • GUS ATAU USTAZ? [END]✅ Sudah Terbit
  • My Home ✔ (KARYAKARSA)
  • ARLEA [ON-GOING]
  • DikaRanggi
  • SHADOW
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien