Polemik size (Tamat)

Polemik size (Tamat)

  • WpView
    Reads 9,867
  • WpVote
    Votes 807
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 2, 2024
Bentuk tubuh adalah satu hal yang pasti dilirik oleh kebanyakan orang. Sesudah point penting yaitu wajah. Tapi, bagaimana jika point penting itu di tumbuhin oleh sesuatu yang mengerikan seperti jerawat dan kawan-kawannya. Oh, jangan lupa dengan kacamata baca menjadi pendukung dari kehancuran point penting itu. Dua hal itu berimbas kurangnya kepercayaan diri. Bully jadi makanan harinya. Widuri perempuan yang jika senyum menimbulkan lubang yang begitu cantik pada pipinya.Tapi, sayang senyum itu tidak pernah muncul kecuali kepada sang ibunya. Selebihnya hanya ada cc muka datar. mendapatkan bullyan karena wajah dan bentuk tubuhnya membuatnya kuat dan lambat laung menerima dirinya sendiri. Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya pertemuan itu kembali. Widuri harus bertemu dengan pria yang menghancurkan dunianya, waktu SMA. Naasnya pria itu bertemu tiap hari dengannya. Lalu bagaimanakah widuri harus merelahkan harinya setiap hari? Akan kah, Widuri kuat atau malah sebaliknya. Cover by Pinterest + Canva
All Rights Reserved
#178
cintapertama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Let Me Be Your Man (Tamat)
  • INSECURE LOVE (END)
  • Githa or Fitha
  • I'm Pretty
  • No Cerai No Pisah!
  • ZIVANNA
  • Tubby, I Love You! (Selesai)
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • DEA ✓ (WM) TERBIT

Hari sudah menjelang petang kala itu. Anggun melangkah tertatih keluar dari gudang sekolah. Tubuhnya terluka, namun hatinya jauh lebih terluka dari yang terlihat. Habis sudah air matanya meruntuki apa yang terjadi padanya. Dia sendiri tidak lagi bisa berpikir, apa yang menjadi salahnya? Semenjak dia menginjakkan kakinya di sekolah ini, yang dia rasakan hanya bullyan, cacian dan hinaan. Apa yang salah dengan dirinya, bahkan Anggun juga tidak tahu. Belum cukupkah semuanya itu hingga dia harus merasakan semua ini? Anggun masih bisa menelan itu semuanya walau terasa sangat sakit baginya. Selama ini dia cukup pintar menyembunyikan apa yang dia alami di sekolahnya pada keluarganya. Tidak! Keluarganya tidak boleh tahu apa yang sebenarnya dia alami di sekolah ini. Keluarganya menaruh harapan besar padanya. Tapi, kali ini, apa bisa dia menyembunyikan semuanya ini? Mereka bahkan dengan tega melecehkannya di gudang itu. Mereka yang dengan tawa dan senyum sadisnya seolah malah menertawakan penderitaan yang dialami oleh Anggun. Mereka bertiga, wajah mereka, dan nama mereka, seolah menjadi mimpi buruk bagi Anggun. Tidak! Tidak hanya mereka bertiga, namun semuanya. Semua yang telah membuatnya seperti ini. Mereka dan semua yang telah mereka lakukan, tidak akan pernah bisa hilang dari ingatannya. Cover by : Canva

More details
WpActionLinkContent Guidelines