Senandika Semesta

Senandika Semesta

  • WpView
    LECTURAS 81
  • WpVote
    Votos 22
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, jun 23, 2022
WpInfo
Ficción
Romance
Semesta berjalan sesuai takdirnya. Merangkai hari demi hari, menikmati luka, kecewa dan mencari definisi bahagia. Dan ternyata, bahagia hanyalah hasil ciptaan manusia yang berulang kali terluka. Karena hidup hanyalah serangkaian rasa sakit dan kecewa yang kita upayakan untuk sembuh. Terluka, kecewa lalu kembali bahagia. Tangis, duka lalu kembali baik-baik saja. Kita semua pernah terluka, kita semua berhak berbahagia.
Todos los derechos reservados
#412
takdir
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ruang
  • Happy Is Bulshit
  • Sea Gentala (Tamat) ✔️
  • Memories of us - based on true story
  • Endless [END]
  • HIRAETH ARFA
  • Stand by Me [TERBIT]
  • Waktu dan pertemuan yang salah
  • ON REMEMBERING
ruang

SETIAP manusia berhak mendapatkan ruang untuk bisa merasakan ketenangan walau hanya sesaat. Sekadar untuk menghela nafas sebelum menerima segala kenyataan yang akan menimpa dirinya. Mencoba menerima kepahitan dalam kehidupan yang sementara. Atau mungkin sekadar untuk menarik nafas panjang sebelum akhirnnya menerima bantingan keras hingga meremukkan tulang. Semesta tidak pernah berpihak pada Arkana Gala Dakari. Baginya, semua hanya bisa menggoreskan luka yang sangat dalam tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun. Mereka seakan-akan tak memberikannya sebuah ruang untuk bernafas bahkan untuk sesaat. Tak pernah sedetikpun ia merasakan yang namanya ketenangan. Kesehariannya hanya berisi tentang kekhawatiran bahkan ketakutan. Arkana bahkan tidak tahu bagaimana rasa kebahagiaan yang sebenarnya. Apakah kebahagiaan itu manis seperti gula atau bahkan pahit seperti kopi. Dunia terlalu kejam untuk Arkana yang sendirian. Dalam keadaan terpuruk ia hanya bisa mencoba untuk berdiri dengan rasa sakit yang bertubi-tubi menimpa dirinya. Ia bahkan berharap mendapat jawaban dari semua doa-doa yang selalu ia panjatkan pada yang maha kuasa. Selain itu, ia juga membutuhkan ruang untuk sekadar bernafas dengan penuh ketenangan. Copyright © 2025, PapaLumoL

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido