Familiae || JJH

Familiae || JJH

  • WpView
    Reads 570
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 18, 2024
"Kok Ayah sama Bubun gak tinggal bareng? Temen Dya orangtuanya tinggal bareng semua."-Sandya "Kata orang kita anak haram ya? Kenapa mereka bilang begitu? Kan kita punya Ayah sama Bubun."-Najma Berdamai dengan masa lalu nampaknya begitu sulit untuk Lean. Melupakan goresan yang ditinggalkan Jeyan tak semudah membalik telapak tangan. Maka dari itu ia memilih hidup terpisah tanpa tali pernikahan. Menjunjung tinggi egonya tanpa pernah peduli dengan dua buah hati yang sudah mendamba sebuah keluarga hangat. Akankah Lean mau kembali merajut asmara bersama seorang Jeyan atau terus menutup mata dan mengedepankan egosentrisnya? Apakah memulai kembali rajut kasih yang terputus bersama Jeyan adalah pilihan tepat di kala ada lelaki lain yang sudah menaruh harapan padanya? *Sequel Matter
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana [COMPLETED]
  • Are We Brother's ? - [boynextdoor] TERBIT✓
  • Dear Jisung || NCT dream [END]
  • SEVEN A (End) ✓
  • [JaexDoxTae Fanfic] - Day Dream (FIN ✅)
  • My Sick Twins! || LHC NJM
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Galaksi✓
  • Lee Cute Jeno: Shorts 2
  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]

Pada malam paling temaram yang pernah seorang anak jumpai adalah kehilangan sepenggal bait kehangatan yang sepatutnya terus membersamai. Seorang anak yang sudah cukup dewasa sebagai pengganti bapak, seorang anak lain yang baru saja memasuki runyamnya semester tanggung di bangku perguruan tinggi, seorang lainnya lagi baru saja bersuka cita telah memasuki mimpi para anak muda seusia adiknya untuk melepas seragam sekolah, seorangnya lagi baru saja merasa bahwa masa SMA adalah kebebasannya, seorang lainnya lagi masih berkutat dengan permainan remaja tanggung di bangku menengah pertama, satu yang lain masih bersenang-senang pada masa anak-anak yang hendak remaja, dan satu lainnya yang terakhir masih bahagia dimanjakan dengan rambut yang terbelah dua. Namun pada hari itu, nyatanya semesta memberinya segenggam ujian yang harus ditanggung bersama karena kepergian ibunda. Syair-syair elegi selanjutnya mengiringi langkah mereka, mengantarkan satu tubuh yang sudah kaku karena kehilangan ruhnya. Mengantarkan keberangkatan sang ibunda pada tempat paling jauh yang tak bisa mereka singgahi untuk sekadar melepas rindu yang menumpuk dibalik pakaian basah yang baru dicuci, dibalik tumpukan piring kotor yang hendak dibersihkan. Dan lainnya yang menumpuk dan terus menumpuk, membiarkan hati mereka berat diduduki rindu yang tak pernah habis. Dan kemudian luka-luka tak pernah bisa disembuhkan waktu, ketujuh warna dalam keluarga Nawasena berakhir temaram dan kehilangan sukmanya. ©Jeta An Alternate Universe Renjana, 2021

More details
WpActionLinkContent Guidelines