We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
KAINA
  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 18, 2021
WpInfo
Fanfic
"Dunia jahat banget sama Kaina, kenapa pas Kaina udah seneng dikit aja langsung dibikin jatuh lagi? Kaina juga capek, Tuhan sayang sama Kaina kan? kenapa Tuhan kasih Kaina cobaan terus?" tangis gadis ini tak berhenti sedikit pun, ia merasakan beban yang teramat berat saat ini. Kalian bisa bilang dia berlebihan tapi ia memang nyatanya sudah sekuat itu. Tak apa bagi nya untuk menangis saat ini kan? "nangis mulu, cape gua dengernya" Kaina terperanjat, ia hanya sendirian dirumah tetapi darimana suara itu datang? "Lo siapa.." ucap Kaina sambil melihat kearah lelaki yang duduk di kursi dekat meja belajarnya. "lap dulu sono ingusnya, jorok" Kaina mematung disana, bagaimana mungkin ada sesosok lelaki disini..? padahal ia saja anak tunggal, ia selalu kesepian dirumah. Otaknya berputar sebentar, berpikir. "LO MALING YA? KELUAR GA LO? GUE TELPON POLISI YA" ujar Kaina sambil mengambil handphone-nya. "Polisi gabisa liat gua, mama papa gua aja gabisa liat gua" mata Kaina membulat mendengar penuturan lelaki itu. dengan cepat ia menghapus sisa air matanya. "gue bisa liat setan?" kata Kaina bingung, selama hidupnya ia tak pernah untuk melihat hal semacam ini. "haha, lu santuy banget liat gua? gua kaget sih lu bisa liat gua. gua tadi lewat terus ada orang nangis teriak teriak gua kira kenapa jadi gua mampir" kata lelaki itu-sangat mudah bukan ia berbicara? "oh ya, gua bukan setan soalnya gua belum mati" katanya yang membuat Kaina semakin bingung. Ia sedang berhalusinasi atau bagaimana?
All Rights Reserved
#719
jenonct
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Devil in Your (ANGGARANTA)
  • Alefandra
  • Cukup Mengagumimu [SELESAI]
  • East sky first love
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • psychologycal
  • For My Daughter
  • Enough Love Not For Own [HIATUS]
  • A R S E A N A

[PROSES REVISI] Series pertama Anggaranta Bagaimana rasanya, difitnah oleh keluarganya sendiri, sakit!! ia hanya bisa menangis bodoh dan tersenyum miris akan semua. Diusir karena ego lebih kuat. Dibuang layaknya sampah. Hanya karena, seorang yang licik penggila harta. "Abang, gak benci sama Gea kan? Mereka aja benci sama Gea." tanya Gea sendu. 'Gimana bisa gua benci lo, sedangkan mereka yang penjilat harta malah gua sayang?' "Gak! Geo gak benci. Geo udah tahu semuanya. Mereka cuma manusia busuk penjilat harta yang kebetulan terlahir di keluarga berada." jelas Geo menahan tangisnya. 'Gua udah tau semuanya ya. Makanya, gua gak mau lagi tinggal di kandang iblis itu.' "Gua udah tau semuanya. Mereka cuma mikirin tentang harta. Bahkan, papa yang notabe-nya sayang sama kita aja, itu digaji sama oma setiap harinya. Geo udah sadar sekarang, mereka cuma kecoak yang hanya bisa mengotori dunia." sambung Geo lagi. 'Geo cuma sayang Gea. Semua adalah lalu kecuali Gea.' "Abang sampai-sampai gak habis mereka. Otaknya berisi tentang harta doang. Ada ya, manusia kejam kaya mereka?" tanya Geo seraya tersenyum miris. 'Abang, udah ngerti soal itu yah?' "Abang, dengerin Gea. Itu emang udah jadi takdir mereka." tutur Gea lembut. "Tetep aja Ya. Mereka terlalu kejam memisahkan kita." balas Geo lagi. "Bukan dunia yang kejam, tapi manusia yang menginjakkan kakinya di sana." ••• Ryan terkekeh sinis, "Papi? Sejak kapan anda menjadi papi saya?? Hm?" tanyanya dengan cekikikan. 'Apa-apaan sikap ini!?!' Hendrik menatap murka anaknya itu, "Kau harus terima, atau marga Wijaya saya cabut dari namamu." ancamnya lagi. Ryan menatap sengit pria paruh baya itu, lalu tersenyum miring. "Apa anda berani??" tanyanya menantang. "Tentu saja saya berani! Saya adalah pemilik dan penguasa marga Wijaya. Jadi, untuk apa saya takut hanya untuk mencabut nama Wijaya dari bocah ingusan sepertimu!" gertaknya mengancam, suasana berubah semakin mencekam. [END]

More details
WpActionLinkContent Guidelines