Hidup adalah pilihan.
Ya, menurut gue sih gitu. Selama ini, gue berhasil bertahan hidup dengan memilih pilihan yang tepat.
Tapi, kalo tentang dia...
Apa mungkin dia adalah pilihan yang tepat?
Gimana kalo pilihan gue salah?
Tapi ini kan pilihan...
Gue harus bisa memilih dan menjalani. Nggak peduli nantinya gue akan memiliki atau kehilangan.
Tekad Ali sudah bulat. Ia akan terus menunggu sambil mengawasi dan menjaga Prilly, cewek incarannya.
"Prilly tuh player! Jangan harap, lo happy ending sama dia!" pesan Burhan, sahabat Ali. Ya, Ali bukannya nggak tau kalo Prilly itu player, tapi mau gimana lagi kalo udah cinta?
Sampai pintu keajaiban itu terbuka. Dengan keadaan mendesak, Prilly meminta Ali untuk menjadi pacar pura-puranya. Ali senang bukan kepalang. Walaupun harus ada embel "pura-pura" dibelakang kata pacar, Ali nggak peduli! Yang ia pikirkan hanya satu, ia bisa lebih dekat lagi dengan Prilly.
Tapi, seiring waktu berlalu, Ali mulai berpikir "Apa salah, gue mencintai Prilly? Ya, mungkin gue salah!" Apa yang membuat Ali berpikir untuk meninggalkan Prilly? Mungkinkah Ali mendapatkan balasan atas perasaannya?