Lembar Pertama Said

Lembar Pertama Said

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 18, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Masa remaja bukan hanya bersenang-senang atau berhura-hura, tetapi juga mengikis sedikit demi sedikit sikap tak acuh kepada orang-orang di sekelilingnya. Itulah tekad Said, seorang pelajar kelas XI-Bahasa dan Budaya. Ia tak mau lagi mengasah kegemaran bersastranya untuk kesenangan diri semata, melainkan agar benar-benar bermanfaat bagi keluarga dan kawan tercinta. Namanya juga usaha, tidak ada yang mulus atau lancar. Keringnya tinta, darah dan air mata terus mengucur di sepanjang perjalanan Said dalam menggoreskan pena. Apakah berbagai rintangan itu tidak akan menghentikan usahanya? Ataukah semua cobaan itu akan membuatnya mengangkat tangan dan meletakkan pena di atas kertas, sehingga lembar pertamanya mangkrak untuk selama-lamanya?
All Rights Reserved
#687
fiksiindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit Langit Damaskus Bersaksi
  • IDOL [TAMAT]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • ALYA
  • Theatre
  • Shena Aquella {SELESAI}.

"Ketika peluru tak lagi bersuara, maka sunyi akan berbicara. Dan langit akan bersaksi-siapa yang tetap bertahan, dan siapa yang memilih menyerah." Damaskus bukan sekadar kota. Ia adalah saksi bisu dari cinta yang berani, pengorbanan yang sunyi, dan harapan yang tak pernah patah meski langit runtuh berkali-kali. Fathir, seorang pendidik idealis, bersama Najwa-sahabat seperjuangannya yang penuh keteguhan-mendirikan Harapan Langit, sebuah sekolah di jantung konflik Suriah. Di antara reruntuhan, tawa anak-anak, dan bayang-bayang pengkhianatan, mereka tak hanya melawan keterbatasan, tapi juga prasangka dan kepentingan tersembunyi. Namun, ketika kebenaran dipelintir dan kepercayaan mulai goyah, satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan mereka hanyalah keteguhan pada nilai yang mereka tanam sejak awal: bahwa pendidikan adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Apakah cinta, iman, dan cita-cita cukup kuat untuk menahan badai yang datang dari segala arah? Atau... langit akan bersaksi bahwa mereka pun bisa runtuh? ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines