Bila Hujan akan Reda

Bila Hujan akan Reda

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 6, 2025
"Tapi gue tetap gak suka hujan, Yan." "Karena pandangan, lo tentang hujan sejak awal udah salah. Seperti kata orang ketika lo menyukai langit, lo harus siap menerima semua cuacanya, termasuk hujan bahkan badainya. Seperti hidup, lo harus siap menerima semua rasanya, semua kebahagiaan dan duka-duka yang dihadirkan." Hujan semakin deras, gemuruh mulai terdengar. Mengalihkan atensi Arum pada jendela kaca, sebuah kilat bersama suara kencang bagai dentuman itu hadir ditengah perbincangan keduanya. Refleks Arumi menutup telinganya. "Hal kayak gini lo nikmati?" Tanya-nya pada Ryan. Ryan mengangguk dengan senyum tipis "kita harus menikmati badai yang hadir, gua yakin badai pasti berlalu, Rum. Dan badai itu juga yang akan membuat kita sadar betapa hebatnya kita untuk terus bertahan,"
All Rights Reserved
#243
berjuang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Matahari
  • IN THE END ✔
  • what if? (END)
  • ARUMI ALIVIA RAZETA
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Bukan Cerita Kita
  • Chibi Sol4ce X Readers
  • Goodbye Alaska [END]
  • Tears In Heaven
  • Memories in Moon
Matahari

Aditya Baskara benci ketika mengingat acara bunuh dirinya yang tak jadi karena dipergoki oleh seorang gadis cacat kaki bernama Arunika Ahana. Terlebih lagi dengan ucapan sarkas gadis lemah itu. Setelah kejadian itu, Arunika masuk ke dalam daftar jajaran orang yang harus Baskara jauhi. Tapi di kemudian hari, Baskara dengan tak ada harga dirinya malah memohon Arunika untuk memeluknya ketika astraphobia-nya kambuh. Baskara agaknya sudah semakin gila ketika tanpa sadar tiap malam ia selalu rindu akan pelukan Arunika. Sehaus kasih sayang itu kah dirinya? "Itu air buat gue, 'kan?" "Bukan. Ini buat Arvi." "Arvi?" Baskara tersenyum kesal, menatap tajam Arunika. Dia menunduk mensejajarkan kepalanya dengan Arunika dan membawa tangan gadis itu menyentuh rahangnya. "Yang butuh perhatian itu gue, bukan Si Ingusan itu." "Kamu-!" "Gue haus, Aru-haus kasih sayang lo." 23. 08. 2024 [ Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang ]

More details
WpActionLinkContent Guidelines