From Hopelles to Prayboy

From Hopelles to Prayboy

  • WpView
    Reads 136
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 9, 2022
"Iya, nggak selamanya hidup kamu kayak gini." ungkap Nadhera. "Banyak omong banget si jadi Dokter! mending pergi deh kagak usah ngurusin gue!" tukas Irzan. "Terserah ente, saya sudah memberi tahu mau dilakukan atau tidak resikonya ente yang nanggung." Nadhera tidak mau kalah. "Tapi saya nanggung melabuhkan perasaan ke Dokter gimana dong? makanya ngusir juga buat netralisir degup jantung saya!" sergah Irzan membuat perempuan berjas putih itu diam seketika. Irzan tertegun sejenak lalu menatap langit dan beralih meninggalkan Nadhera yang tengah menggelengkan kepalanya seraya menghela nafas.
All Rights Reserved
#126
humoris
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ELSA & GINTARA [END]
  • Rieril
  • SEKAR
  • Rasa Dalam Sujudku
  • Beautiful Hell (END)
  • Can I Call You Mine?
  • I'm yours ✔️
  • PERBEDAAN
  • Dear Imamku

Beberapa tamu yang baru saja hadir berhasil membuat suasana di dalam Gereja semakin ramai. Situasi yang tentunya langsung membuat keringat Gintara bercucuran meski rasanya tidak gerah sama sekali. Ada gugup sekaligus haru yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya. Sambil melihat dirinya sendiri di pantulan kaca, ia kerap merapalkan doa semoga ini jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupnya. Sebab ia percaya, apa yang sudah persatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan manusia. Sementara itu, selang beberapa jam setelahnya, Elsa yang baru saja menyelesaikan riasan pengantinnya mulai sibuk mencari tisu. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini sudah tak terbendung lagi. Perasaan aneh yang menjelma jadi seulas senyum tipis terpoles di bibirnya kala melihat seorang penghulu yang sudah hadir. Tepat beberapa detik setelahnya, bayangan wajah laki-laki yang bertahun-tahun lamanya hidup dalam ceritanya semakin tergambar jelas. "Yuk, akadnya udah mau mulai," tegur Riska yang selalu jadi saksi bagaimana hati Elsa dibolak-balikkan oleh satu laki-laki yang sama. Sampai tangannya menangkap tangan Riska yang sudah tersenyum haru di sampingnya, Elsa tersadar bahwa sebentar lagi hidupnya akan benar-benar berubah. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah ini. Elsa hanya ingin bahagianya nyata. Mungkin saja ini waktunya. Semoga.

More details
WpActionLinkContent Guidelines