Americano

Americano

  • WpView
    LECTURES 20
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., déc. 22, 2021
"Selayaknya rasio untuk menyajikan secangkir Americano, kisah ini dirajut untuk menyajikan sebuah kenangan". Perpaduan antara espresso dan air yang menjadi satu kesatuan untuk mengeluarkan cita rasa yang khas, begitulah kisah ini berlabuh. Dua insan yang memiliki selera yang bertolak belakang, harus bertemu dan mengenal lebih jauh satu sama lain karena ketidak sengajaan. Bagi keduanya, kedai kopi adalah rumah kedua yang memberikan kenyamanan, selayaknya rumah yang mereka singgahi.
Tous Droits Réservés
#199
jaeminnct
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Unforgettable Serenade [Phasa]
  • We Belong to Each Other
  • Love Is Coffe Away (Myungnyang/Daengsung)
  • ❪ 恋 ❫ FRAPPE • jaemlix ✔
  • Satu Atap, Satu Hati
  • [END] COFFEE SHOP & The Story Inside - Season 1
  • [✓] Daisy's Memories [Umemiya X F.Readers]

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu