AKU DAN CERITAKU

AKU DAN CERITAKU

  • WpView
    Reads 630
  • WpVote
    Votes 84
  • WpPart
    Parts 59
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Mar 3, 2022
Ini tentang aku yang selalu mengeluh pada semesta mengenai takdir ku. Tentang aku yang sangat membenci senja, sebab senjalah yang menjadi saksi bisu hari terakhir bahagia didalam hidupku. Akankah aku mampu menjalani ceritaku yang berdampingan dengan 'Mereka'? Lalu bagaimana aku akan melanjutkan ceritaku sedangkan peran pendukung ku selalu pergi dariku? " mama papa tolong aku...." " tidak, pergi lah! Kau sangat menakutkan" " abang.. abang dimana? abang jangan pergi" Follow dan vote ya, thank you
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • We're destined to met, not to united.
  • Wrong Feeling ~Namon~
  • The Letter Of Memories
  • BERSAMAKU SEBENTAR SAJA[BXB]
  • Let Me Love You Longer
  • BRANDENA [COMPLETED]
  • Haruskah Aku Bertahan?
  • A Second Chance #Brotherhood 3 (Complete)
  • Full Of Scratches

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines