METHEO

METHEO

  • WpView
    Reads 88,678
  • WpVote
    Votes 10,410
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 14, 2025
( Spin off cerita My Controlling Girl ) "Gue gak izinin lo jatuh cinta sama gue, karena gue berbahaya. Dan lo, bakal banyak menderita baik itu dari segi fisik ataupun psikis." Theo menatap intens gadis yang berdiri didepannya. Meta mendongak. "Aku terima segala konsekuensinya," sahutnya tanpa pikir panjang. Karena dia sudah berada pada posisi, akan melakukan apa saja demi cowok yang ada dihadapannya. Theo mendekatkan wajahnya pada telinga Meta, kemudian berbisik rendah. "Perlu lo tahu, gue tempramental, egois, cemburuan, posesif, overprotective. Dan gue nggak akan pernah biarin orang yang udah masuk dalam kehidupan gue, keluar lagi." Mungkin ini kalimat terpanjang yang diucapkan seorang yang irit dalam berbicara seperti Theo. Entahlah, dia sepertinya akan banyak bicara bila bersama gadis ini. Meta meneguk ludah. "Aku cinta sama kamu tulus, aku juga akan selalu nerima apapun kekurangan yang kamu punya!" Jawabnya sangat yakin. Theo kemudian menyeringai. "Fine. So, welcome to my dark life and you will never find a way out again, uderstand?" "OKAY!" Meta bersorak senang. Gadis ini... sangat pemberani.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't Talk About Money
  • -I'm not yours.
  • DeKaNa (END)
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • Bukan Cerita Kita
  • ★BABY ZION★
  • Swan's Last Pirouette
  • TEMAN MASA KECIL YANG TEROBSESI   (hiatus)
  • GADIS (Lengkap belum revisi)

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines