Stay halal 17:32

Stay halal 17:32

  • WpView
    Reads 67
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 27, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Tidak semua perasaan harus di ungkapkan Apalagi ketika belum ada kesiapan untuk menerima konsekuensi jawaban Bukan sebuah kehinaan kehilangan cinta karena lebih memilih diam Sebab diammu adalah sebuah pahala Kau lebih memilih Allah daripada hubungan yang tak jelas Muaranya Semua orang bisa mencintai semua orang bisa menaruh harapan tapi.. Tak semua orang bisa menahan rasa demi sesuatu yang ada Ridho Allah di dalamnya Kamu tak perlu takut perasaan mu tak terbalas atau cintamu terabaikan Bukankah sesuatu yang telah di takdirkan untukmu tak akan pernah terlewatkan?! Dan sesuatu yang melewatkan mu tidak pernah di takdirkan untukmu! Ikhtiarkan yang baik dengan cara yang baik pula Jika belum mampu menuju gerbang pernikahan maka lepaskan Cukup rasa itu kau pendam dalam diam Memang terkadang berat dan melelahkan Tapi untuk Surga yang tak ternilai harganya maka kamu harus mampu menjaganya Bila cinta hanya akan mendatangkan murka sang pencipta.. maka segeralah lepaskan Ingatlah bahwa yang terbaik adalah pilihan Allah Stay halal 17:32 demi 36:36 dan jangan lupakan bahwa 21:35 bisa datang kapan saja tanpa ada aba-aba...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Tertulis Dalam Doa
  • My Dear Jannah
  • Rendra & Lila [END]
  • Mahligai Sunyi
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)
  • DikaRanggi
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • Garis Singgung

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines