Black Snow Black

Black Snow Black

  • WpView
    Reads 62
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 7, 2022
Setiap hujan turun setelah belasan purnama kemarau, penduduk Daratan Frisland selalu mengadakan perayaan. Perayaan itu, berupa perkemahan di luar kubah Frihom--kubah yang didirikan untuk melindungi area penduduk Daratan Frisland. Dan hal tersebut adalah hal yang selalu ditunggu-tunggu oleh penduduk Daratan Frisland, terutama para remaja. Namun tahun ini berbeda, bukan kesenangan yang mereka dapatkan melainkan sebuah kemalangan. [Sci-fi]
All Rights Reserved
#531
fiksiilmiah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cermin Ke Dunia Aetheria
  • Visual Penggerak Pena [Kumcer]
  • KEANSHA [Hiatus]
  • THE SECOND ENDING [END]
  • THE AUDUMA MASKEN : Whispers Of Heirlooms ✔ [BELUM REVISI]
  • Get in the Dark  | DROPPED
  • Bangkitnya Sang Penjaga Untuk Memulihkan Alam Yang Hilang [END]
  • Love by Accident [COMPLETED]
  • Land of Youth

Raina, gadis 16 tahun dengan rambut sebahu dan tatapan selalu penasaran, berdiri terpaku di depan rumah tua yang diwarisi dari neneknya. Bangunan itu berdiri seperti bangkai raksasa di tengah desa kecil bernama Windmere, penuh dengan tanaman rambat dan cat yang mengelupas. Tapi yang paling menarik perhatian Raina bukan dindingnya, melainkan cermin besar di loteng, berbingkai perak dengan ukiran aneh seperti simbol bintang, mata, dan akar pohon. "Aneh... kenapa cermin ini dingin sekali, padahal lotengnya panas," gumam Raina, meletakkan tangannya di permukaannya. Begitu jari telunjuknya menyentuh simbol di sudut kanan atas, udara di sekitarnya bergelombang. Cermin itu bersinar lembut biru, dan permukaannya mulai berputar seperti pusaran air. Sebelum Raina sempat mundur, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya: "Pewaris Cahaya, waktumu telah tiba." Dan dalam sekejap, tubuhnya tersedot ke dalam pusaran itu. Raina terjatuh di atas rerumputan ungu dan langit jingga - dunia asing yang tampak seperti mimpi dan mimpi buruk bersatu. Makhluk bersayap perak melayang di udara. Pohon-pohon berbisik. Di kejauhan, berdiri sebuah menara kristal yang memancarkan sinar ke langit. "Selamat datang di Aetheria," kata seorang anak laki-laki sebaya yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Kami sudah menunggumu selama dua abad."

More details
WpActionLinkContent Guidelines