Rumpang Pada Rampung

Rumpang Pada Rampung

  • WpView
    Reads 114
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 16, 2022
WpInfo
Fiction
Fantasy
Semakin bertambahnya usia, kaki kian berat melangkah. Tak terlihat apa yang diinjak, tetapi saat dirasa, ternyata menginjak dewasa. Ketika kecil, harapannya menjadi besar adalah bisa puas main tanpa harus tidur siang. Namun, pada saat besar, ingin tidur siang seperti waktu kecil ternyata susah. Baru memejamkan mata saja sudah diteriaki pemalas. Dewasa ini, banyak sekali kejadian-kejadian yang dirasa menyenangkan, tetapi juga menyedihkan. Banyak berita beredar luas, yang topiknya pun meluas. Mulai dari sukses di usia muda, jatuh bangun memulai usaha, pengkhianatan dalam hubungan, hal-hal erotis, kekerasan pada anak, dan masih banyak lagi. Kontradiksi, fanatisme, patriarki, feminisme, justifikasi tak mendasar, dan hal-hal lain nyatanya masih melekat pada masyarakat. Lantas, pada dewasa ini, bagaimana harus bersikap? Mengikuti diri yang sudah selama ini berdiri, atau beranjak pergi dari kenyamanan diri?
All Rights Reserved
#241
jatidiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Behind The Smile (TERBIT)
  • Fina
  • 𝓐𝓴𝓾 𝓢𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓜𝓮𝓶𝓪𝓷𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓛𝓪𝓷𝓰𝓲𝓽 𝓑𝓲𝓻𝓾 𝓘𝓽𝓾
  • RIVER FOR BEGINNER
  • My Junior My Love ✔️
  • Eleftheria
  • Mutualism Symbiosis[Hiatus]
  • Secret Of Marriage
  • The Baby Boss With Hot Bodyguard #BOOK1

| Self discovery | Family & Relationship| slice of life | coming of age | "Behind The Smile" Di balik tawa dan vibes ceria, siapa yang nyangka ada luka yang nggak kasat mata? Ini cerita tentang tiga anak muda yang hidup bareng di satu tempat, tapi masing-masing punya "baggage" hidup yang berat banget buat diomongin. Ada yang struggle banget karena nggak pernah dapet support penuh dari keluarga, terutama soal pendidikan. Komentar negatif dari orang sekitar bikin overthinking nggak kelar-kelar. Ada juga yang tumbuh di keluarga broken home, dipaksa ngikutin mimpi orang tua yang nggak nyambung sama passion-nya. Kasih sayang? Nihil. Dia cuma bisa bertahan karena nggak punya pilihan lain. Terus ada lagi yang mentalnya udah remuk karena sering dibandingin sama saudara atau orang lain. Support emosional dari keluarga? Jangan harap. Mereka keliatan fine di luar, senyum terus, ketawa terus. Tapi di balik itu? Mereka lagi perang sama diri sendiri. Pas hidup makin kerasa toxic dan jalan keluar nggak kelihatan, apa mereka bisa nemuin power buat bangkit lagi? Let's find out their journey-raw, real, and relatable banget dalam "Behind The Smile"

More details
WpActionLinkContent Guidelines