Rumpang Pada Rampung

Rumpang Pada Rampung

  • WpView
    Reads 114
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 16, 2022
Semakin bertambahnya usia, kaki kian berat melangkah. Tak terlihat apa yang diinjak, tetapi saat dirasa, ternyata menginjak dewasa. Ketika kecil, harapannya menjadi besar adalah bisa puas main tanpa harus tidur siang. Namun, pada saat besar, ingin tidur siang seperti waktu kecil ternyata susah. Baru memejamkan mata saja sudah diteriaki pemalas. Dewasa ini, banyak sekali kejadian-kejadian yang dirasa menyenangkan, tetapi juga menyedihkan. Banyak berita beredar luas, yang topiknya pun meluas. Mulai dari sukses di usia muda, jatuh bangun memulai usaha, pengkhianatan dalam hubungan, hal-hal erotis, kekerasan pada anak, dan masih banyak lagi. Kontradiksi, fanatisme, patriarki, feminisme, justifikasi tak mendasar, dan hal-hal lain nyatanya masih melekat pada masyarakat. Lantas, pada dewasa ini, bagaimana harus bersikap? Mengikuti diri yang sudah selama ini berdiri, atau beranjak pergi dari kenyamanan diri?
All Rights Reserved
#89
selfimprovement
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rekonsiliasi Hati ✔
  • UNREQUITED LOVE
  • Marriage With Mr. Actor (The End)
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • 𝓐𝓴𝓾 𝓢𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓜𝓮𝓶𝓪𝓷𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓛𝓪𝓷𝓰𝓲𝓽 𝓑𝓲𝓻𝓾 𝓘𝓽𝓾
  • Eleftheria
  • SENGSARA
  • Karunia di Seperempat Abad (E-book)

||COMPLETE|| re·kon·si·li·a·si - rékonsiliasi - n - perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. *** Hidup di tengah masyarakat yang masih kental akan budaya patriaki memang bikin emosi. Sebagai perempuan selalu dituntut untuk bisa segala hal yang seharusnya bukanlah sebuah kewajiban. Belum lagi stigma yang ada di masyarakat yang makin hari makin gak ada akhlak. Tertekan sudah menjadi bagian dalam menjalani masa depan. Tekanan di tempat kerja juga menjadi salah satu penyebab kegilaan ini. Antara tugas dan jam kerja yang gilanya gak masuk akal, tapi gaji yang diberikan tak seberapa. Ini tuh kerja atau perbudakan dengan gaya, bikin capek aja. Mana ada ekspetasi dari orang tua yang makin bikin runyam kepala, astaga begini sekali hidup di tengah cekikan masyarakat. Ini kalau gagal ditengah jalan mau jadi apa coba, mereka terlalu menaruh ekspetasi tinggi padanya. Siap-siap sudah dinikahkan paksa buat menanggung malu akan kegagalan. Padahal nikah juga bukan solusi, malah makin menambah beban masalah hidup. Gini nih kalau jadi anak perempuan, kalau berhasil kagak dipuji tapi kalau gagal siap-siap dijodohin. - Judistia Savrinadeya -

More details
WpActionLinkContent Guidelines