ARTAGNAN [On Going]

ARTAGNAN [On Going]

  • WpView
    Reads 43
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 18, 2026
Artagnan Adbarta Malik Seorang pelajar kelas 12 SMA dan merupakan seorang CEO Cafe. Mempunyai sifat yang dingin, ketus ,cuek tetapi tidak pernah marah. Dan memiliki sifat jail dan penuh teka teki yang dapat dirasakan oleh orang orang tertentu. Artagnan Membuat Squad yang bernama Squad CAVAN yang memiliki arti Squad (Pasukan) dan Cavan (Tampan) jadi Squad Cavan Artinya Pasukan Tampan, yang berisikan dirinya dan sahabat sahabatnya yang memiliki sifat beranekaragam. Squad Cavan didirikan dengan baik, bukan untuk geng yang suka bermusuhan lalu tawuran , bukan pula geng yang suka malak orang orang. Tetapi Squad Cavan adalah PPP (Pasukan Pemberantas Preman) 📌 Up setiap hari Minggu ✅ Cerita murni pemikiran sendiri 🚫 Dilarang Plagiat IG: @slssalwa
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines