Alina: Mimpi Yang Pupus

Alina: Mimpi Yang Pupus

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 31, 2021
WpInfo
Non-Fiction
Seorang balerina harus merelakan mimpinya karena kecelakaan yang dialaminya tiga tahun silam. Beberapa bulan mengurung diri dan membatasi kehidupan sosial, ia ingin berperang melawan keterpurukan yang dialaminya. Hingga kedatangan Arhan mulai membuat hidup Alina berwarna.
All Rights Reserved
#84
balerina
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Harmoni Ombak Dan Lensa [LENGKAP]
  • Tak Pernah Punya Harapan
  • It's Definitely You
  • Lilin di tengah hujan [END]
  • Penantian di Ujung Harapan
  • Labirin Hati
  • TIKUNGAN SEPERTIGA MALAM
  • My Friend My Love
  • Lynella (COMPLETED✅)

Aruna Elina, seorang gadis remaja berusia 17 tahun, selalu menemukan ketenangan di pantai-tempat ia merasa bebas dari bayang-bayang penyakit jantung bawaan yang selama ini membatasi langkahnya. Dengan kamera di tangannya, Aruna menangkap setiap momen: senja yang hangat, jejak ombak di pasir, dan burung camar yang terbang bebas. Bagi Aruna, setiap jepretan adalah cara untuk mengabadikan keindahan dunia yang mungkin tidak selamanya bisa ia nikmati. Suatu hari, di salah satu perjalanan ke pantai favoritnya, ia bertemu dengan Aksa, seorang pemuda pendiam yang gemar melukis pemandangan laut. Aksa, yang awalnya terlihat dingin dan misterius, perlahan mulai membuka diri kepada Aruna. Lewat percakapan mereka, Aksa mengungkapkan bahwa ia pernah kehilangan adiknya yang memiliki kondisi serupa dengan Aruna. Dalam waktu singkat, keduanya saling memahami dan menemukan kedamaian dalam kehadiran satu sama lain. Namun, kondisi Aruna semakin memburuk, dan harapan untuk menjalani operasi transplantasi jantung semakin kecil. Meskipun begitu, Aruna tidak ingin menyerah pada rasa takut. Bersama Aksa, ia membuat daftar impian sederhana yang ingin diwujudkan-dari menyaksikan matahari terbit di puncak bukit hingga menggelar pameran foto bertema "Hidup dari Mata Seorang Pengamat." Dalam perjuangannya, Aruna belajar bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita memilikinya, tetapi bagaimana kita mengisinya. Di tengah senja terakhir yang ia abadikan, Aruna menemukan arti cinta, keindahan, dan keberanian yang lebih besar dari semua keterbatasannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines