O²L
  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 27, 2022
Tak ada orang yang tahu kondisiku seperti apa sekarang. Semakin hari, fisikku semakin melemah. Jari-jari tangan kian hari semakin kaku untuk digerakkan, otakku saat ini sulit untuk mencerna rangkaian huruf yang tertulis di lembaran buku-buku ini. Semua kondisi tubuh dan pikiran kutuangkan secara runut dalam note kecil ini. Aku tak tahu, perasaanku saat ini seperti apa. Ingin semangat, tapi tak tahu untuk siapa semangat ini kubangkitkan. Aku ingin bersedih, namun sedihku sudah terlalu larut, dan tak akan ada yang peduli. Aku selalu sendiri. Sendiri menikmati perih, sendiri menjalani hari yang kian menyesakkan. Tak perlu memperlihatkan diriku yang lemah kepada mereka, karena nyatanya walau raga ini sekarat, mereka tetap tak perduli. Biarlah seperti ini, aku yang mulai terbiasa sendiri, Aku yang menikmati tubuh digerogoti penyakit hari demi hari. Tak apa, dengan begini rasa sakit karena kepergianku suatu saat nanti tak akan terlalu menyesakkan. Dan kuharap setelah kepergianku, mereka akan melupa secepat waktu berlalu. Heh.. Kalimatku terlalu percaya diri. . . . "Yah, hari ini temenin Aya sekalii aja. Aya cuman takut nanti ada yang nguntit Aya lagi," "Kamu itu udah dewasa!! Harus bisa mandiri dan jaga diri sendiri. Jangan ngerepotin orang lain lagi!," ... "Kak, stop!! Kenapa kakak gak pernah mau main ke rumah? Kenapa, kakak lebih pilih tinggal di apartemen ketimbang di rumah bareng Aya. Kenapa Kak?!," "Kakak sayang kamu, kakak mau nemenin kamu. Tapi, kakak gak pernah bisa kuat kalo harus melihat wajah kamu tiap hari Ya," ... "Bang Ata balik yah.. Gak ada orang yang mau nemenin Aya. Aya takut sendiri lagi bang," "Tunggu yah.. Abang masih harus selesain study yang tertunda. Abang harus kejar impian abang, 1 tahun lagi bang Ata balik dan akan nemenin Aya setiap waktu," ... "Kai, bisa gak kamu berhenti prioritasin dia. Kali ini aja.. Aku butuh kamu," "Bebal banget sih Lo!! Kan gue udah bilang, sahabat gue jauh lebih prioritas dibanding Elo!!"
All Rights Reserved
#168
kinara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • DIFFERENT TWINS [ END ]
  • FRIENDzone (Completed)
  • Paradise
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • Strong Girl Michella (END)
  • Friend's Zone's
  • LOVE in SILENCE
  • ALONE

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines