Unbreakable
  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 1, 2022
"Erin, perusahaan ini dan rumah besar itu milik Ayahku bukan milikku, aku tidak memiliki apa-apa selain rumah dinas sederhana yang sekarang aku tempati, maka lihatlah aku sebagai diriku sendiri, Erin, jangan lihat aku anaknya Pak Wijaya." Bima menarik dagu Erin hingga wajahnya terangkat dan menatapnya. *** Tangannya terulur, pelan dan sangat hati-hati Jodi mengusap kepala Erin. Senyum samar terlukis di bibirnya. Biarlah untuk saat ini seperti ini, hanya butuh bersabar. Hingga mungkin suatu saat Erin memberikan cinta untuknya. Akan selalu dia tunggu hingga saat itu tiba, meski hingga diujung waktunya. *** Akan lebih baik jika hilang ingatan sehingga luka ini tidak terasa amat sakit. Begitu hampa tanpanya. Dia yang paling aku cinta telah pergi untuk selamanya. Sakitnya 'tak terperi ketika merindui orang yang kita tahu tidak akan pernah kembali__Erina.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • My Love Zayden
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • OBSESSED with your body(END)
  • Apakah aku pembawa sial?
  • Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]
  • ARUMI ALIVIA RAZETA
  • DeaSea

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines